JavaMagazine (Jakarta) - Apa gunanya menulis tentang cinta? Orang harus mengalami cinta agar
dapat memahami apa itu cinta. Seperti dikatakan Jalaludin Rumi, ketika
harus menjelaskan hakikat cinta, pena patah dan tak kuasa menulis. Namun
demikian, meskipun berhadapan dengan kata-kata dan konsep, menulis
tentang cinta dapat membangkitkan kesadaran tertentu dalam pikiran dan
jiwa pembaca, yang pada gilirannya dapat membuatnya siap untuk mengalami
cinta pada beberapa tingkat.
Tapi cinta itu sendiri tidak dapat
direduksi ke dalam deskripsinya meskipun amat jelas dan puitis,
sementara pada saat yang sama kata-kata yang berasal dari orang-orang
yang benar-benar telah mencinta dapat menghadirkan ingatan dan
membangkitkan di dalam diri sebagian orang cinta yang tersimpan di dalam
jiwa semua manusia laki-laki dan perempuan.
Api cinta dapat
dinyalakan melalui kata-kata yang tepat jika substansi jiwa siap untuk
terbakar dalam api cinta, yang tanpanya hidup yang menjadi kehilangan
nilai, karena sekali lagi mengutip Rumi: "Barangsiapa tidak memiliki api
ini, hendaklah ia tidak ada".
Mari kita mulai dengan metafisika
cinta. Cinta adalah sebagian dan sepenggal dari kenyataan. Cintalah yang
menarik wujud kepada satu sama lain dan kepada Sumber mereka. Cinta tak
lain adalah api yang nyalanya menerangi dan yang panasnya menghidupkan
hati dan menganugerahkan kehidupan. Ia juga badai yang dapat
menjungkirbalikkan jiwa dan menumbangkan keberadaan yang biasa. Cinta
adalah kehidupan tetapi bisa pula kematian. Ia mencakup kerinduan dan
pedih keterpisahan serta gairah penyatuan. Cinta juga tak terpisahkan
dari keberadaan dalam berbagai bentuknya. Bukan hanya dalam Kekristenan
Allah dianggap cinta, menurut Al-Quran salah satu dari Nama-Nya adalah
Cinta atau al-Wadud.
Dan karena cinta adalah bagian dari Hakikat
Ilahi, semua keberadaan, yang memancar dari-Nya, dijalari oleh cinta.
Allah adalah cahaya langit dan bumi, seperti yang ditegaskan dalam
Al-Quran. Kecerahan cahaya ini berkaitan dengan pengetahuan dan
kehangatannya dengan cinta.
Tidak ada ranah eksistensi tanpa
cinta ada di dalamnya, kecuali jika dilihat dari sudut pandang tertentu
pada tingkatan manusiawi, karena Allah telah memberi kita kehendak bebas
untuk mencinta atau tidak; namun demikian, bahkan pada tatanan
manusiawi dapat dikatakan bahwa bahkan orang-orang yang tidak mencintai
Allah atau tetangga mereka masih mencintai dirinya sendiri. Sejauh
menyangkut kosmos, cinta dapat dilihat di mana-mana andai saja kita
sadar akan realitasnya.
Cabang-cabang pohon tumbuh ke arah
cahaya karena cinta, dan hewan-hewan menyayangi anak-anak mereka sebagai
akibat dari cinta. Bahkan langit bergerak karena kekuatan cinta, yang
kita reduksi menjadi sekadar fisika dan kuantitatif, dan kita sebut
gravitasi. Seperti yang ditulis Dante pada bagian paling akhir dari
Divine Comedy, kesatuan rohani tertinggi melibatkan pengalaman dan
realisasi dari "l’amor che move il sole e l’altre stelle," yaitu, "cinta
yang menggerakkan matahari dan bintang-bintang lainnya."
Cinta
mengalir di dalam nadi alam semesta, demikian pula rahmat, dan kita
sebagai manusia dapat dan benar-benar mencinta, objek cinta kita mulai
dari makhluk duniawi, terutama seseorang, hingga Allah itu sendiri.
Tetapi seperti yang telah disebutkan, pada kenyataannya cinta berasal
Allah dan tidak bersama kita. Dalam dua perintah dasarnya Kristus
meminta para pengikutnya untuk mencintai Allah yang mencintai makhluknya
dan mencintai tetangga.
Al-Quran menyediakan dasar metafisikal
untuk cinta ini dengan menegaskan bahwa Allah akan membawa orang-orang
"yang Dia cintai dan mereka mencintai-Nya" (QS Al-Mâ’idah [5]:54). Ayat
ini, yang telah berkali-kali dikutip oleh tulisan-tulisan Sufi mengenai
cinta, makin menjelaskan bahwa pertama-tama Allah mencintai makhluk-Nya,
dan sebagai konsekuensi dari cinta kita bisa mencintai-Nya. Selain itu,
seperti yang dinyatakan dua perintah Kristus, cinta Allah memiliki
kedudukan lebih tinggi daripada cinta tetangga, yang berarti semua
makhluk dan bukan hanya manusia.
Karena itu, dari sudut pandang
manusia, ada tahap-tahap cinta yang dipahami secara metafisikal dan
seperti yang dijelaskan oleh kaum Sufi. Yang pertama-tama adalah cinta
Allah untuk diri-Nya sendiri dan kemudian Cinta-Nya untuk makhluk-Nya,
termasuk kita, yang sebagai akibatnya cinta menjalari inti substansi
makhluk di semua tingkat eksistensi.
Kemudian, ada cinta kita
kepada Yang Ilahi, dan akhirnya ada cinta kita kepada makhluk-makhluk
lain, yang menurut mereka yang percaya diturunkan dari cinta kepada
Allah. Pemahaman spiritual tentang cinta ini karenanya mentransendensi
cinta ego pada dirinya sendiri, cinta palsu yang telah menjadi lumrah
pada kebanyakan laki-laki dan perempuan. Hanya melalui hirarki ini dan
hubungan di antara berbagai tingkatannya kekuatan spiritual dan
transformatif cinta, yang bahkan dapat mengubah cinta ego pada dirinya
sendiri menjadi cinta kepada Allah dan yang lainnya, dapat dimengerti.
Tetapi
ada unsur lain yang lebih halus yang melibatkan instrumen serta
kandungan wahyu yang mengikatkan kita kepada Allah. Bisakah seseorang
mencintai Allah sebagai seorang Kristen tanpa mencintai Kristus?
Jawabannya cukup jelas. Kebenaran yang sama berlaku bagi Islam, di mana
cinta kepada Nabi merupakan prasyarat bagi cinta kepada Allah. Kebenaran
ini dirangkum sebagai berikut: untuk mencintai Allah, Dia harus
terlebih dahulu mencintai kita, dan Allah tidak mencintai orang yang
tidak mencintai Nabi atau rasul-Nya dan risalahnya.
Karena cinta
berasal dari Allah dan memancar dari-Nya, cinta sejati di dunia ini pada
akhirnya tidak lain daripada cinta kepada Allah. Orang-orang Kristen
awal berbicara tentang agape dan eros untuk membedakan cinta Tuhan dan
manusia atau kosmik, dan pembedaan ini masih penting dalam banyak
teologi Kristen, terutama teologi Katolik.
Kaum Sufi mengambil
rute yang berbeda. Mereka tidak menggariskan perbedaan yang tajam antara
agape dan eros, memandang yang kedua sebagai bayangan dan juga tangga
menuju yang pertama. Sebaliknya, mereka berbicara tentang cinta sejati
(al-‘isyq al-haqiqi), yaitu cinta manusia bagi Allah, dan cinta
metaforis (al-‘isyq al-majazi), yang meliputi segala bentuk cinta yang
kelihatannya berada di luar dan bebas dari ikatan cinta antara Allah dan
manusia.
Menurut pandangan ini, sebagian besar dari apa yang
kita anggap sebagai cinta bukanlah cinta yang sejati sama sekali
melainkan cinta hanya dalam pengertian kiasan. Selain itu, terdapat satu
hierarki lagi dalam cinta yang dimulai dari berbagai tingkatan cinta
metaforis hingga cinta sejati, yang selalu melibatkan Allah dan dapat
mencakup cinta pada seseorang atau sesuatu, tetapi di dalam Allah. Namun
bahkan cinta metaforis adalah kilau dari cinta sejati karena akhirnya
hanya ada satu Cinta dengan banyak tingkatan manifestasi.
Kaum
Sufi juga berbicara tentang bentuk lain gradasi dan hierarki cinta.
Mereka memulai dengan kondisi manusia biasa dan berakhir dengan keadaan
orang-orang suci. Keadaan cinta terendah dari sudut pandang ini adalah
cinta ego atau cinta diri atau cinta untuk dirinya sendiri. Ini masih
cinta, tetapi karena sifatnya memenjarakan objeknya, cinta itu
melumpuhkan dan menghalangi pertumbuhan jiwa dan kemungkinan baginya
untuk mencapai tingkatan cinta yang lebih tinggi. Kemudian ada cinta
kepada yang lain, entah itu manusia, hewan, atau benda-benda seperti
tanaman, mineral, dan juga artefak bikinan manusia, terutama karya-karya
seni. Tetapi tingkat cinta ini masih terbatas dan berhingga serta dalam
banyak kasus bersifat sementara.
Sering kali ia menimbulkan
keterikatan pada dunia sehingga menghalangi jiwa dari mengalami tingkat
cinta yang lebih tinggi, yang secara paradoks juga melibatkan
keterlepasan dari hal-hal yang bersifat keduniawian. Kemudian ada cinta
untuk realitas suci, mencakup para nabi, kitab-kitab yang diwahyukan,
orang-orang suci, seni yang suci, dan sebagainya, yang datang dari
Allah, mengarahkan jiwa kepada-Nya, asalkan manusia tetap sadar akan
Sumber dari semua yang suci.
Akhirnya, ada cinta kepada Allah,
yang Suci adanya, yang tak berbatas dan membebaskan bukannya mengikat
karena objek dari cinta ini adalah yang Tak Berbatas. Cinta tingkat
tertinggi adalah cinta Allah untuk diri-Nya sendiri, dan inilah Cinta
yang membuat semua bentuk cinta lain menjadi mungkin. Bahkan, segala
bentuk cinta merupakan pantulan, meskipun sangat samar, dari cinta
tertinggi ini.
Dari sudut pandang spiritual semua tingkatan yang
disebutkan di atas bisa positif, dan masing-masing tingkat yang lebih
rendah dapat mengantarkan ke tingkatan yang lebih tinggi alih-alih
bersifat membatasi. Cinta pada diri sendiri dapat membuka kesadaran
tentang sifat ego yang mudah mengelabui dan cepat berlalu dari ingatan
serta efeknya yang memenjara, mengarahkan seseorang kepada pencarian
akan dirinya yang lebih tinggi. Cinta pada yang lain dapat mengakibatkan
rasa sakit dan penderitaan serta membantu jiwa untuk mencari cinta yang
tidak pernah binasa.
Cinta pada alam dapat menimbulkan rasa
ingin tahu akan hikmat Allah dan cinta kepada Pencipta makhluk-makhluk
yang menjadi objek kecintaan kita. Adapun cinta pada objek-objek suci,
teofani dan yang sejenisnya, hampir selalu mengantarkan kepada cinta
kepada Wujud Yang merupakan sumber dari karunia dan keindahan yang hadir
di dalamnya. Hierarki cinta dengan demikian dapat dipandang sebagai
tangga pendakian menuju Kerajaan Langit dan sebagai deskripsi tentang
keterbatasan dan pemenjaraan yang lebih besar atas jiwa saat seseorang
saat ia turun ke tingkatan yang lebih rendah dari hierarki tersebut.