Tampilkan postingan dengan label Masyarakat Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masyarakat Jawa. Tampilkan semua postingan

Situs Purbakala di Kediri Mulai Digali

JavaMagazine (Mojokerto) - Baru-baru ini Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto, Jawa Timur melakukan penelitian di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Penelitian tersebut dilakukan dengan menggali sebuah situs purbakala yang ditemukan di tempat tersebut.

"Kami dapatkan peninggalan ini utuh dan tingkat kerusakan minim," ujar Ketua tim penggalian, Nugroho Lukito yang dikutip dari Antara (4/12).

Dia juga mengungkapkan bahwa struktur dari situs itu berupa altar dengan ada batu induk. Selain bangunan, juga ditemukan lingga serta dua arca.

Namun, dua arca itu masih belum diketahui lambangnya, sebab tidak memuat atribut apapun. Dua patung itu mirip manusia dan berdiri, namun kedua patung itu identitas penokohannya masih sulit, dan keluar dari pakem.

"Patungnya tidak memuat atribut apapun untuk mencari identitas penokohannya. Kami kesulitan, sebab keluar dari pakem. Apakah ini patung hiasan atau imajinasi saja," ujarnya.

Dia sempat menduga jika situs itu adalah petirtaaan, namun di lantai bawah tidak ada batu yang digunakan untuk lantai. Dengan itu, akhirnya untuk kesimpulan sementara bahwa situs itu berupa altar.

Yang cukup disayangkan adalah kondisi situs tersebut sudah tak lagi utuh. Banyak kerusakan di beberapa titik. bahkan warga setempat sebenarnya telah lama diketahui, sekitar tahun 1070 dan baru dialporkan pada tahun 2014.

Walaupun memprediksi situs itu berupa altar, Lukito mengatakan untuk periodesasi apakah zaman Kerajaan Kadiri atau Majapahit juga belum ada kepastian.

Dilihat dari struktur situs itu, hampir mirip dengan struktur di situs sejenis yang ditemukan di Kecamatan Gurah yang menunjukkan masa Kerajaan Kadiri.

Ia juga menambahkan, analisa itu masih belum diuji kebenarannya. Ke depan, penelitian akan melibatkan tim dari Balai Arkeologi Jogjakarta untuk melakukan pengkajian lebih lanjut, sehingga bisa dilakukan penelitian lebih mendalam.

Tim dari BPCB, kata dia, hanya mempunyai waktu selama enam hari untuk ekskavasi, dan dari hasil itu nantinya menjadi bahan laporan. Ke depan, tim juga berencana melanjutkan lagi ekskavasi, menunggu anggaran di 2015.

Situs itu ditemukan di lahan pekarangan Romli, warga Desa Sumberjo, Kecamatan Badas. Lahan di pekarangan itu rencanya digali dan akan dibuat kolam lele, tapi saat mengetahui ada struktur situs, langsung dilaporkan ke BPCB.

Anik, istri Romli mengaku sebelumnya memang telah ditemukan banyak struktur dari bangunan kuno, seperti batu bata, serta bangunan yang menonjol di dasar tanah. Pihaknya urung menggali tanah itu, dan menunggu hasil laporan terkait dengan temuan tersebut.

"Tanahnya juga pernah dikeduk, untuk campuran membuat batu bata. Awalnya sedikit, lama kelamaan jadi luas, sampai akhirnya dikeduk mau dibuat kolam lele," kata Anik.

Pihaknya juga berharap ada kejelasan dari pemerintah daerah terkait dengan status tanahnya, apakah akan dibebaskan atau tidak. Sebab, tanah itu rencananya juga dibuat untuk usaha, dan untuk sementara tidak bisa digunakan karena ada ekskavasi.

Penemuan Situs Altar Pemujaan Era Kerajaan Kediri

JavaMagazine (Kediri) - Sebuah altar tempat pemujaan era Hindu pada masa Kerajaan Kediri yang terbuat dari struktur batu bata berukuran besar ditemukan di sebuah lahan yang hendak dimanfaatkan untuk kolam ikan di Dusun Sumberjo, Desa Tunglur, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Menurut Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, bangunan tersebut diindikasikan peninggalan era Kerajaan Kediri karena terpendam di dalam tanah dengan kedalaman hampir mirip dengan situs Tondowongso di Desa Tondowongso, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, jarak keduanya kurang lebih 15 kilo meter.

BPCB Trowulan mengaku setelah menerjunkan tim untuk melakukan ekskavasi dengan hasil sementara bangunan tersebut diindikasikan sebagai altar pemujaan era Kerajaan Kediri.

Menurut pemilik lahan, Anik, penemuan bangunan bersejarah itu berawal saat dirinya menggali tanah di kebun miliknya untuk kolam ikan. "Pada saat menggali saya menemukan batu bata merah berukuran besar. Kemudian dilaporkan kepada perangkat desa setempat," katanya.

Laporan penemuan batu bata merah besar itu kemudian ditindaklanjuti oleh BPCB Trowulan dengan menerjunkan tim untuk melakukan ekskavasi. Setelah melalui proses penggalian selama tiga hari akhirnya ditemukan tiga bangunan menara dari struktur batu bata dan dua buah arca dari batu yang kini telah dibawa ke BPCB Trowulan.

Menurut Ketua Tim Ekskavasi Nugroho Harjo Lukito, bangunan semula diperkirakan peti retakan karena mirip menara di Candi Tikus. "Setelah digali ternyata tampak sebuah altar besar yang merupakan bangunan perwara," kata Nugroho.

Ditambahkan Nugroho, bila melihat bangunan tersebut, besar kemungkinan dahulunya di atas ketiga bangunan tersebut diyakini terdapat tiga buah arca dewa.

"Kesimpulan itu diambil karena tim ekskavasi mengetahui jika sebelumnya juga ditemukan sebuah lingga sempurna yang memiliki bagian Siwabaga, Wisnhubaga dan Brahamabaga, dimana masing-masing dewa terletak di atas bangunan menara," ujarnya.

Menurut Nugroho, bangunan tersebut diindikasi sebagai sebuah tempat pemujaan era Kerajaan Kediri. Sebab ketika tim melakukan perbandingan komprehensif dengan temuan situs Tondowongso, kedalaman bangunan serta arsitekturnya hampir sama.

"Akan tetapi tim belum mengetahui apakah altar tersebut diperuntukkan bagi kalangan kerajaan atau masyarakat biasa. Tetapi jika melihat bentuk fisiknya disinyalir untuk masyarakat biasa," tuturnya.

Tim ekskavasi merekomendasikan agar dilakukan penelitian lebih lanjut hingga ditemukan pagar pembatas suci di sekitar bangunan.

"Penelitian tersebut penting mengingat berdasarkan penilaian tim struktur bangunan yang ditemukan tersebut sangat bagus karena utuh dan di Kediri tergolong langka. Selain itu tim juga merekomendasikan juru pelihara dan perawat yang bertugas melindungi bangunan itu dari kerusakan dan teruruk karena posisinya berada di dalam," tuturnya.

Sementara itu lahan kebun yang hendak dimanfaatkan untuk kolam ikan tersebut, menurut Anik, istri dari Romli pemilik lahan, kini menjadi ramai dikunjungi masyarakat.

"Alhamdulillah jadi ramai sekarang. Saya juga berharap Pemkab Kediri bisa mengganti lahan ini dengan lahan yang lain. Dan kedua Alhamdulillah BPCB juga telah menunjuk anak saya sebagai juru pelihara dan diusulkan untuk mendapatkan gaji," ujarnya.(End).


Simbol Kembalinya Kejayaan Majapahit, Nusantara, Indonesia Era Moderen.

Tari "Mistis" Seblang Ditetapkan Menjadi Warisan Budaya Nasional

JavaMagazine (Banyuwangi) - Ajang pariwisata tahunan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) sukses digelar di Banyuwangi, Sabtu (22/11/2014) kemarin. Event fashion berbasis budaya lokal ini tiap tahunnya mengusung tema budaya lokal. Tahun ini, tema yang diusung adalah Tari Seblang yang merupakan tarian ritual tertua di Banyuwangi dan telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Nasional oleh pemerintah pusat.

Tari ini dimaksudkan sebagai usaha memperoleh ketenteraman, keselamatan, dan kesuburan tanah agar hasil panen melimpah. Ritual ini ditarikan seorang penari dalam kondisi 'trance', kondisi tak sadarkan diri, sebagai penghubung warga desa dengan arwah leluhurnya.

"Kami selalu mengusung budaya lokal dalam setiap event wisata. Ini berbeda dengan kebanyakan daerah lain yang justru membawa tema budaya global ke level lokal," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Turut hadir dalam acara wisata itu, antara lain, Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert O. Blake. Puluhan ribu warga dan wisatawan berbaur menikmati ajang fashion budaya tahunan tersebut.

Sebanyak 500 peserta berparade di beberapa jalan utama di Banyuwangi. Mereka mendefinisikan ritual Tari Seblang ke dalam busana yang dipamerkan. Semuanya tampak meriah dan gemerlap tanpa menghilangkan makna dari ritual Tari Seblang.

Ada yang memasang berbagai ornamen mirip buah-buahan di sekitar mahkota kepala sebagai tanda syukur atas hasil bumi yang melimpah. "Kreativitas anak-anak muda ini patut diberi ruang. Dengan kemasan menarik, bisa menjadi event wisata yang dapat menggerakkan perekonomian masyarakat," kata Anas.

Anas menjelaskan, ritual Tari Seblang hingga sekarang masih lestari. Setahun diselenggarakan dua kali di desa yang berbeda, yaitu di Desa Olehsari dan Desa Bakungan. Di Desa Olehsari, ritual ini digelar pada hari ketujuh setelah Idul Fitri dengan penari gadis atau janda yang masih segaris turunan dari penari-penari Seblang sebelumnya. Ia menari dalam keadaan tak sadarkan diri selama sepekan. Sementara Seblang di Desa Bakungan diselenggarakan pada malam ketujuh setelah Idul Adha dengan penari perempuan yang sudah menopause. Ia juga menari dalam kondisi tak sadarkan diri

"Kami masih punya banyak sekali potensi seni dan budaya yang bisa diangkat jadi tema event wisata pada tahun-tahun mendatang. Event wisata seperti karnaval modern harus berbasis pada potensi seni-budaya Banyuwangi. Kemasan boleh glamour dan modern tapi akar seni-budaya Banyuwangi tidak boleh tercerabut. Itulah yang membedakan Banyuwangi Ethno Carnival dengan karnaval-karnaval lainnya di Indonesia, bahkan di dunia," jelas Anas.

Bukan hanya tari dan ritual adatnya yang ditampilkan, BEC juga menyajikan musik tradisional Banyuwangi. "Itulah yang membuat BEC satunya-satunya karnaval di dunia yang diiringi oleh live music tradisional," tuturnya.

Anas menambahkan, event wisata berbasis seni budaya juga menjadi ajang konsolidasi budaya di daerahnya. "Sekaligus ini sebagai bagian dari upaya mempelajari sejarah dan budaya. Saat ini, pelajaran sejarah dan budaya semacam ini sudah saatnya diperkenalkan di luar kelas, tidak hanya di dalam kelas," kata Anas.

Kereta Kencana Jokowi

www.danahibah.web.id
JavaMagazine (Jakarta) - Presiden terpilih Joko Widodo dan wakilnya Jusuf Kalla rencananya akan diarak menggunakan kereta kencana saat pelantikan, Senin (20/10/2014). Kini kereta kencana itu masih berada di anjungan DKI Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Ciracas, Jakarta Timur.

Utusan Dinas Pariwisata telah datang untuk mengecek kondisi kereta tersebut. Pantauan Warta Kota, Kamis (16/10/2014), kereta itu berada tepat di dekat pintu masuk, tempat penerangan anjungan DKI Jakarta, TMII. 
 
Kereta itu memiliki panjang lebih kurang 3 meter, lebar 1,5 meter, dan tinggi 2 meter. Kereta diberi warna merah dengan dihias ornamen ukiran berwarna emas di beberapa bagian, seperti di bagian pelek roda, bodi depan, belakang, dan samping.

Selain itu, ukiran kepala naga juga terlihat di kolong kereta dengan jumlah tiga buah. Kepala naga juga menghiasi gagang di dua pintu kereta itu. Meskipun demikian, pada bagian gagang pintu kiri sudah tampak menggunakan kawat agar pintu tidak terlepas. Dua buah lampu berada di depan dekat kursi kemudi.

Sedangkan kursi penumpang diberi kursi busa dilapisi kulit berwarna hitam dengan duduk saling berhadapan depan belakang.

Pada roda bagian belakang berdiameter lebih kurang 50 cm. Sedangkan roda depan berdiamater 30 cm.

"Kereta kencana ini cukup menarik, seperti kereta kencana pada kerajaan di lnggris. Bahkan, menurut saya, lebih bagus, karena pada roda kayunya diberi ornamen ukiran berwarna emas," kata Edward Tambunan, Juru Penerang Anjungan DKI Jakarta, TMII.

Terlebih, lanjutnya, ukiran juga menghiasi beberapa bagian kereta kencana tersebut. Kereta kencana tersebut, kata Edward, berasal dari Solo. Kereta itu merupakan replika dari kereta kencana seperti yang biasa digunakan kerajaan pada zaman dahulu. "Yang bisa menaiki kereta kencana dahulu hanya Sultan dan keluarga keraton," katanya.

Keris Justru Dilupakan Karena Mistis & Mitos Keramat

Karena mistis & mitos keramat, keris jadi dilupakanJavaMagazine (Yogyakarta) - Benda pusaka semacam keris selalu dikait-kaitkan dengan mitos keramat dan juga hal-hal mistis. Meski hal tersebut tidak bisa diterima akal sehat, namun beberapa peristiwa menunjukkan bagaimana keramatnya sebuah keris, seperti keris terbang dan bisa berdiri yang kerap dipertontonkan lewat layar kaca.

Mitos tersebutlah yang dinilai oleh pegiat paguyuban Mertikarta (Pemerhati Tosan Aji Yogyakarta), Eko Supriyono sebagai penyebab keris tidak lagi dikenal oleh masyarakat sekarang.

"Soal isian keris atau keris jadi benda keramat, kita percaya itu ada. Tapi itulah menyebabkan orang jadi tidak kenal keris, punya keris lalu dikaitkan dengan mistis, orang jadi takut, padahal tidak semuanya begitu," kata Eko saat ditemui diacara Gelar Pusaka Warisan Dunia, di Pura Pakualaman, Rabu (24/09).

Karena faktor mistis yang melekat kuat, banyak orang yang tidak boleh memiliki atau bahkan melihatnya. Dia mencontohkan, ada banyak keris yang disimpan oleh Keraton, tapi tidak bisa dilihat oleh masyarakat.

"Sebagai benda pusaka, masyarakat tidak pernah lihat lalu bagaimana kita akan tahu, apa warisan kebudayaan kita, lalu bagaimana mewariskannya kepada generasi muda," ujarnya.

Eko menilai di era modern sekarang orang harus melihat keris sebagai karya seni estetika dan warisan kebudayaan. Karena itu jika sampai masyarakat tidak lagi mengenal keris, maka suatu saat keris akan dilupakan.

"Kita inilah yang merawat dan melestarikan kebudayaan kita, keris contohnya, semoga pameran ini bisa membuka pengetahuan dan minat masyarakat untuk mencintai warisan budayanya," pesannya.

Penemuan Koin Logam Era Sebelum Masehi

JavaMagazine (Cianjur) - Timnas Peneliti Gunung Padang, memperkirakan artefak berbentuk koin logam terbuat dari perunggu dengan diameter 1,7 sentimeter digunakan sebagai status sosial dan kepentingan ritual pada zaman sebelum masehi.

Wakil Ketua Timnas Peneliti Situs Megalit Gunung Padang, Ali Akbar, Selasa, mengatakan, beberapa artefak yang ditemukan sebelumnya, seperti mata tobak, trak logam, tongkat, gerabah, dan lainnya, rata-rata sudah ada sejak 5200 SM ditemukan pada kedalam 2-3 meter.

Artefak yang terakhir ditemukan Senin sore (15/9), ditemukan di kedalaman 11 meter saat proses pengeboran di teras 5. Pihaknya belum bisa memastikan usia koin logam tersebut. Namun artefak lainnya diperkirakan sudah ada sejak 5.200 SM di kedalaman 2-3 meter, sedangkan koin logam diperkirakan lebih tua.

"Kami menemukan koin logam itu, tengah malam saat proses pengeboran mencapai 11 meter. Koin terangkat melalui saluran pembuangan limbah, sehingga koin itu berbentuk utuh tidak rusak," katanya.

Pihaknya mengunakan mata bor kecil berdiameter 5 sentimeter, disamping sisi kiri dan kanan bor ada saluran air agar memudahkan pengeboran, lalu dikeluarkan melalui saluran sisi lainnya.

"Disaat saluran air itu berjalan, koin itu terangkat. Sehingga bentuk koin tersebut masih sangat utuh," katanya.

Warna koin logam itu, jelas Ali, berwarna hijau kecokelatan. Ukurannya sangat kecil berdiameter 1,7 sentimeter dan permukaanya datar. Pada koin itu terdapat lingkaran yang sangat banyak motif, seperti motif gawangan disamping lingkaran koin, lalu di dalamnya ada garis melingkar pada semua bagian koin.

"Uniknya garis melingkar itu ternyata berbentuk untaian lingkaran yang sangat kecil sekali, dan diameternya sekitar 0,3 milimeter dengan jumlah sebanyak 84 lubang. Lalu tebal koin ini hanya 1,5 milimeter," katanya.

Pihaknya memperkirakan, koin tersebut digunakan sebagai status sosial dan ritual upacara, bukan alat penukaran. Sebelumnya para peneliti, memperkirakan dikedalam 5 meter itu sudah tidak ada peradaban atau kehidupan, kalau konteksnya dilihat saat penemuan artefak beberapa waktu lalu.

"Kami memperkirakan usia termuda Situs Gunung Padang 500 SM dan tertua 5200 SM. Tapi ternyata, saat kami menemukan artefak koin di kedalaman 11 meter, berarti usia situs itu bisa lebih tua. Kemungkinan masih banyak banda-benda seperti itu, kami akan teliti dulu lebih lanjut dan dibawa ke laboraturium," katanya.

Menhan Ikuti Prosesi Jalan Salib

JavaMagazine (Yogyakarta) - Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro mengikuti Prosesi Jalan Salib pada acara Peresmian Penataan Kawasan Sendangsono, Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo, Senin (16/06/2014), sekaligus menandatangani Prasasti, bersama dengan Gubernur DIY HB X dan Uskup Agung Semarang Mgr. J. Pujasumarta.

Acara peresmian Penataan Kawasan Sendangsono diawali dengan peresmian oleh Gubernur DIY HB X. Sultan mengungkapkan, dengan Penataan Kawasan Sendangsono ini akan menambah destinasi wisata religi.Ia juga menyatakan, jika warga bisa hidup bersama dan dalam penghormatan terhadap agama lain yang terlihat di Sendangsono. "Hal ini terbukti adanya simbol-simbol kerukunan umat beragama", tegas Sultan.

Setelah melakukan prosesi jalan salib, Menhan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan harapan kedepan dengan penataan kawasan sendangsono, "Penataan Sendangsono ini diharapkan menjadi Lurdesnya Indonesia. Kedepan akan banyak wisatawan yang datang ke Sendangsono baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sehingga memberi dampak ke Sendangsono dan masyarakat sekitarnya", katanya.


Penataan kawasan yang akan dilakukan meliputi empat sasaran. Diawali dari renovasi atap Gereja Promasan yang kayu-kayunya telah rapuh, kemudian penataan jalan salib sepanjang 1 km dari gereja ke Sendang Sono. Selanjutnya pembangunan Sangkristi atau Pastoran, serta pembangunan kolam padusan di Sendang Sono.

Dalam kesempatan itu juga ditandatangani nota kesepahaman (MoU) Situs Wisata Rohani Sendangsono Yogyakarta oleh Institut Komunitas Universal sebagai Yayasan Pemrakarsa Penataan dan Revitalisasi Kawasan Situs Wisata Sendangsono, Tidar Heritage Foundation sebagai Yayasan yang bermaksud mengembangkan wilayah tTidar dan sekitarnya di bidang kerukunan spiritual maupun kemakmuran masyarakatnya, serta Keuskupan Agung Semarang.

Ketiga pihak bersepakat bekerjasama mengembangkan dan mempromosikan sendangsono sebagai daerah wisata spiritual yang diakui dunia sebagai waisan budaya dunia. (L30)

Letusan Kelud Penanda Datangnya Pemimpin Nusantara

Hyam Wuruk dan Soekarno adalah pemimpin nusantara yang ketika lahir bersamaan dengan meletusnya gunung Kelud. Akankah letusan kali ini melahirkan pemimpin baru yang dapat memperkuat kemegahan nusantara?



Hayam Wuruk dan Soekarno adalah pemimpin nusantara yang ketika lahir bersamaan dengan meletusnya gunung Kelud. Akankah letusan kali ini melahirkan pemimpin baru yang dapat memperkuat kemegahan nusantara.


JavaMagazine (Jakarta) - Letusan Gunung Kelud masa lalu telah menjadi penanda lahirnya dua tokoh yang menjadi cikal bakal pemimpin besar di nusantara ini, yakni, Hayam Wuruk, Raja ke-4 Majapahit dan Ir Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia.
Apakah letusan Gunung Kelud  yang terjadi pada Kamis (13/2) malam ini juga akan menjadi penanda lahirnya tokoh pemimpin Nusantara yang dapat membuat negara ini betul-betul berdaulat di segala bidang, atau (mungkin) seperti yang disebut-sebut banyak sebagai "Satrio Piningit." Entahlah. Kita mesti berdoa agar dibalik kekalutan masyarakat akan ada hikmah yang besar bagi kemakmusan Indonesia.  

Kembali ke sejarahnya, gunung teraktif di Inonesia  (selain gunung Merapi) ini, pada abad ke-20 telah beberapa kali mengalami erupsi, yakni 1901, 1919, 1951, 1966, dan 1990, kemudian abad ke-21, terjadi pada 2007, 2010 dan 2014.

Kelahiran Hayamwuruk
Buku "Sejarah Raja-Raja Jawa dari Mataram Kuno hingga Mataram Islam" karya Krisna Bayu Adji dan Sri Wintala Achmad, menyebutkan Hayam Wuruk lahir dari pasangan Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan Kertawardhana Bhre Tumapel (Cakradara) pada 1334.

Kelahiran Hayam Wuruk yang bermakna "ayam terpelajar" itu, versi Pararaton atau Wu-lao-po-wi (versi kronik Jawa) merupakan cucu dari Dyah Wijaya dan Gayatri dari pihak ibu, atau cucu dari Kebo Anabrang dari pihak ayah.

Dalam buku itu juga menyebutkan kelahiran Hayam Wuruk tersebut bersamaan dengan meletusnya Gunung Kelud dan gempa bumi di Panbanyu, serta ditandai dengan pengikraran "Sumpah Palapa" dari Patih Amangkubhumi Gajah Mada.

Hingga saat dirinya berusia 17 tahun, dinobatkan menjadi Raja Mahapahit ke-4 menggantikan Tribhuwana Wijaya Tunggadewi.

Semasa pemerintahannya itu, Majapahit berhasil mengembangkan wilayah kekuasannya sampai ke seluruh nusantara.

Dari Wikipedia menyebutkan Kitab Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII dan XIV, berikut adalah daerah-daerah yang diakui sebagai taklukan atau bawahan Majapahit (disebut sebagai macanagara). Negara-negara taklukan di Jawa tidak disebut karena masih dianggap sebagai bagian dari "mandala" kerajaan.

Sumatra disebut di Negarakretagama sebagai "Melayu" meliputi Jambi, Palembang, Keritang, sekarang kecamatan Keritang, Indragiri Hilir Teba (Muaro Tebo, Jambi), Darmasraya (Kerajaan Malayu Dharmasraya), Kandis, Kahwas, Minangkabau (masyarakat periode pra-Pagaruyung), Siak, masyarakat pra-Kesultanan Siak, Rokan (Rokan Hilir-Rokan Hulu) Kampar, Pane (Panai), Kampe (Pulau Kampai, pulau di Kabupaten Langkat sekarang), Haru (atau Aru, berpusat di Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang sekarang), Mandailing, Tamihang (Aceh Tamiang), Perlak (Peureulak), Padang Lawas, Samudra, Lamuri (pusatnya sekarang berupa desa di Kabupaten Aceh Besar), Bantan (Pulau Bintan)Lampung dan Barus (atau Pancur, kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah sekarang) Kalimantan disebut sebagai "Nusa Tanjungnegara" dan/atau "Pulau Tanjungpura", meliputi, Kapuas-Katingan (sekarang Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Katingan di Kalteng), Sampit (sekarang ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur), Kuta Lingga (artinya kota lingga, situs Candi Laras/Kerajaan Negara Dipa), Kuta Waringin (artinya kota beringin, masyarakat pra-Kerajaan Kotawaringin, sekarang Kabupaten Kotawaringin Barat) dan Sambas (Kerajaan Sambas kuno, sekarang Kabupaten Sambas).

Lawai (sungai Kapuas di Kalbar), Kadandangan (sekarang kecamatan Kendawangan, Ketapang), Landa (Kerajaan Landak, sekarang Kabupaten Landak), Samadang (Semandang, wilayah Kerajaan Tanjungpura), Tirem (Tirun/Kerajaan Tidung, sekarang kota Tarakan), Sedu (di Serawak), Barune (sekarang negara Brunei), Kalka (sungai Kaluka atau Krian di selatan Sarawak), Saludung (Kingdom of Maynila), sekarang Kota Manila, Filipina), Solot (kerajaan masyarakat suku Buranun, penduduk asli yang mendiami pegunungan di Kepulauan Sulu cikal bakal suku Suluk/Kesultanan Sulu), Pasir (masyarakat pra-Kesultanan Pasir, sekarang Kabupaten Paser), Barito (sekarang Kabupaten Barito Utara).

Sawaku (atau Sawakung di Berau atau kecamatan Pulau Sebuku, Kotabaru), Tabalung (sekarang Kabupaten Tabalong dengan kotanya Tanjungpuri di tepi sungai Tabalong, ibukota pertama kesultanan Banjar pada era Hindu), Tanjung Kutei (Kesultanan Kutai Kartanegara yang beribukota di Kutai Lama) dan Malano ("di Nusa Tanjungpura", masyarakat suku Melanau di Serawak dan Kalimantan Barat).

Malaysia Barat yang disebut sebagai "Hujung Medini", Pahang, negara bagian Pahang, Malaysia, Langkasuka, Saimwang, Kelantan, Terengganu, Johor, Paka, sekarang cuma merupakan desa nelayan, Muar, sekarang distrik di Johor, Dungun, sekarang adalah desa nelayan di Terengganu, Tumasik, sekarang menjadi negara Singapura, Kelang, (Selangor), Kedah, Jerai dan Kanjapiniran.

Termasuk juga wilayah Indonesia bagian timur, atau Timur Jawa, yakni, Bali (yang disebut adalah Badahulu dan Lo Gajah), Gurun, Sukun, Taliwang (di Pulau Sumbawa) Pulau Sapi, Dompo (Dompu), Sang Hyang Api (Pulau Sangeang), Bima Seram, Hutan Kendali (Pulau Buru), Pulau Gurun atau Lombok Merah, Sasak (dikatakan "diperintah seluruhnya"), dan Bantayan (Bantaeng) Luwuk (Kesultanan Luwu), Udamakatraya dan pulau lain-lainnya, "Pulau" Makasar, Pulau Buton (Kesultanan Buton), Pulau Banggawi (Kepulauan Banggai), Kunir, Galian, Salayar (Pulau Selayar), Sumba, Solot (Pulau Solor), Muar, Wanda(n) (Kepulauan Banda), Ambon atau pulau Maluku, Wanin (Semenanjung Onin, di Kabupaten Fakfak). Seran (Pulau Seram) dan Timor.

Siam, Ayodyapura, Darmanagari Marutma, Rajapura, Singanagari Campa, Kamboja, dan Yawana disebut bukan sebagai bawahan tetapi sebagai negara sahabat (mitreka satata).

Kelahiran Soekarno
Demikian pula, ikhwal Presiden Soekarno yang dilahirkan dua pekan setelah Gunung Kelud meletus pada 22-23 Mei 1901 pukul 06.00 WIB dari pasangan suami istri, Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai pada 6 Juni 1901.

Sebelumnya Soekarno bernama Koesno Soesrodihardjo namun karena sering sakit-sakitan hingga namanya diganti menjadi Soekarno.

Ibundanya berkata, "Kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar menyingsing." "Kita orang Jawa mempunyai kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dahulu. Jangan lupakan itu! Jangan sekali-kali kau lupakan Nak, bahwa engkau ini putra sang fajar".

Perkataan itu terbukti Presiden Soekarno yang dikenal dengan Bung Karno itu menjadi Presiden RI pertama dan namanya harum di seluruh dunia dengan nasionalismenya yang tinggi hingga dapat mempersatukan seluruh wilayah di nusantara, dan dia pun sangat anti kolonialisme dan imperialisme.

Sedekah Gunung Desa Sengi Dukun

JavaMagazine (Magelang) – Diawali dengan Doa bersama antara seniman, tokoh masyarakat dan budayawan di Candi Tengah, Sengi, Dukun, Senin, awal Pebruari 2013 dimulailah Kirab Prosesi Sedekah Gunung yang merupakan ajang Introspeksi Diri.

Gelar prosesi yang dimulai dari sudut Desa menuju Candi Asu dan berakhir di Candi Lumbung, diwarnai dengan tabur wewangian di sepanjang jalur kirab dengan disertai pembacaan mantera sebagai ujub permohonan kepada Tuhan YME. Para peserta nampak  larut dalam acara tersebut dalan suasana yang sakral dan menyatu dengan alam yang menyambut dengan cerah.

Menurut Ismanto, seorang budayawan yang memimpin acara tersebut menjelaskan, “Dengan Prosesi Sedekah Gunung kali ini, diharapkan masyarakat kembali menemukan jati diri, semakin akrab satu sama lain sebagai ciri khas bangsa yang berbudaya.”

Prosesi diakhiri di Candi Lumbung, dengan menggelar berbagai acara teatrikal, baca puisi dan berbagai upacara ritual dengan pendekatan kultur masyarakat Jawa.

“Kita mempunyai ujub, supaya manusia lebih menghormati alam dengan selalu menjaga dan merawat, Dengan menghormati alam, berarti kita menghormati Allah Yang Maha Kuasa, “ jelas Ismanto seusai kirab.

Setelah acara kirab prosesi, dilanjutkan dengan sarasehan dan dialog budaya di Desa Sumber, Dukun, Magelang.

Dalam acara tersebut  dihadiri beberapa elemen masyarakat,  para seniman, budayawan termasuk tokoh-tokoh agama.  (L30).

Pilih Permata Yang Anda Sukai !

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 

Powered by Java Magazine