Hayam Wuruk dan Soekarno adalah pemimpin
nusantara yang ketika lahir bersamaan dengan meletusnya gunung Kelud.
Akankah letusan kali ini melahirkan pemimpin baru yang dapat memperkuat
kemegahan nusantara.
JavaMagazine (Jakarta)
- Letusan Gunung Kelud masa
lalu telah menjadi penanda lahirnya dua tokoh yang menjadi cikal bakal
pemimpin besar di nusantara ini, yakni, Hayam Wuruk, Raja ke-4 Majapahit
dan Ir Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia.
Apakah letusan Gunung Kelud yang terjadi pada Kamis (13/2) malam ini
juga akan menjadi penanda lahirnya tokoh pemimpin Nusantara yang dapat
membuat negara ini betul-betul berdaulat di segala bidang, atau
(mungkin) seperti yang disebut-sebut banyak sebagai "Satrio Piningit."
Entahlah. Kita mesti berdoa agar dibalik kekalutan masyarakat akan ada
hikmah yang besar bagi kemakmusan Indonesia.
Kembali ke sejarahnya, gunung teraktif di Inonesia (selain gunung
Merapi) ini, pada abad ke-20 telah beberapa kali mengalami erupsi, yakni
1901, 1919, 1951, 1966, dan 1990, kemudian abad ke-21, terjadi pada
2007, 2010 dan 2014.
Kelahiran HayamwurukBuku
"Sejarah Raja-Raja Jawa dari Mataram Kuno hingga Mataram Islam" karya
Krisna Bayu Adji dan Sri Wintala Achmad, menyebutkan Hayam Wuruk lahir
dari pasangan Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan Kertawardhana Bhre
Tumapel (Cakradara) pada 1334.
Kelahiran Hayam Wuruk yang
bermakna "ayam terpelajar" itu, versi Pararaton atau Wu-lao-po-wi (versi
kronik Jawa) merupakan cucu dari Dyah Wijaya dan Gayatri dari pihak
ibu, atau cucu dari Kebo Anabrang dari pihak ayah.
Dalam buku itu
juga menyebutkan kelahiran Hayam Wuruk tersebut bersamaan dengan
meletusnya Gunung Kelud dan gempa bumi di Panbanyu, serta ditandai
dengan pengikraran "Sumpah Palapa" dari Patih Amangkubhumi Gajah Mada.
Hingga saat dirinya berusia 17 tahun, dinobatkan menjadi Raja Mahapahit ke-4 menggantikan Tribhuwana Wijaya Tunggadewi.
Semasa pemerintahannya itu, Majapahit berhasil mengembangkan wilayah kekuasannya sampai ke seluruh nusantara.
Dari
Wikipedia menyebutkan Kitab Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII dan XIV,
berikut adalah daerah-daerah yang diakui sebagai taklukan atau bawahan
Majapahit (disebut sebagai macanagara). Negara-negara taklukan di Jawa
tidak disebut karena masih dianggap sebagai bagian dari "mandala"
kerajaan.
Sumatra disebut di Negarakretagama sebagai "Melayu"
meliputi Jambi, Palembang, Keritang, sekarang kecamatan Keritang,
Indragiri Hilir Teba (Muaro Tebo, Jambi), Darmasraya (Kerajaan Malayu
Dharmasraya), Kandis, Kahwas, Minangkabau (masyarakat periode
pra-Pagaruyung), Siak, masyarakat pra-Kesultanan Siak, Rokan (Rokan
Hilir-Rokan Hulu) Kampar, Pane (Panai), Kampe (Pulau Kampai, pulau di
Kabupaten Langkat sekarang), Haru (atau Aru, berpusat di Deli Tua,
Kabupaten Deli Serdang sekarang), Mandailing, Tamihang (Aceh Tamiang),
Perlak (Peureulak), Padang Lawas, Samudra, Lamuri (pusatnya sekarang
berupa desa di Kabupaten Aceh Besar), Bantan (Pulau Bintan)Lampung dan
Barus (atau Pancur, kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah sekarang)
Kalimantan disebut sebagai "Nusa Tanjungnegara" dan/atau "Pulau
Tanjungpura", meliputi, Kapuas-Katingan (sekarang Kabupaten Kapuas dan
Kabupaten Katingan di Kalteng), Sampit (sekarang ibukota Kabupaten
Kotawaringin Timur), Kuta Lingga (artinya kota lingga, situs Candi
Laras/Kerajaan Negara Dipa), Kuta Waringin (artinya kota beringin,
masyarakat pra-Kerajaan Kotawaringin, sekarang Kabupaten Kotawaringin
Barat) dan Sambas (Kerajaan Sambas kuno, sekarang Kabupaten Sambas).
Lawai
(sungai Kapuas di Kalbar), Kadandangan (sekarang kecamatan Kendawangan,
Ketapang), Landa (Kerajaan Landak, sekarang Kabupaten Landak), Samadang
(Semandang, wilayah Kerajaan Tanjungpura), Tirem (Tirun/Kerajaan
Tidung, sekarang kota Tarakan), Sedu (di Serawak), Barune (sekarang
negara Brunei), Kalka (sungai Kaluka atau Krian di selatan Sarawak),
Saludung (Kingdom of Maynila), sekarang Kota Manila, Filipina), Solot
(kerajaan masyarakat suku Buranun, penduduk asli yang mendiami
pegunungan di Kepulauan Sulu cikal bakal suku Suluk/Kesultanan Sulu),
Pasir (masyarakat pra-Kesultanan Pasir, sekarang Kabupaten Paser),
Barito (sekarang Kabupaten Barito Utara).
Sawaku (atau Sawakung
di Berau atau kecamatan Pulau Sebuku, Kotabaru), Tabalung (sekarang
Kabupaten Tabalong dengan kotanya Tanjungpuri di tepi sungai Tabalong,
ibukota pertama kesultanan Banjar pada era Hindu), Tanjung Kutei
(Kesultanan Kutai Kartanegara yang beribukota di Kutai Lama) dan Malano
("di Nusa Tanjungpura", masyarakat suku Melanau di Serawak dan
Kalimantan Barat).
Malaysia Barat yang disebut sebagai "Hujung
Medini", Pahang, negara bagian Pahang, Malaysia, Langkasuka, Saimwang,
Kelantan, Terengganu, Johor, Paka, sekarang cuma merupakan desa nelayan,
Muar, sekarang distrik di Johor, Dungun, sekarang adalah desa nelayan
di Terengganu, Tumasik, sekarang menjadi negara Singapura, Kelang,
(Selangor), Kedah, Jerai dan Kanjapiniran.
Termasuk juga wilayah
Indonesia bagian timur, atau Timur Jawa, yakni, Bali (yang disebut
adalah Badahulu dan Lo Gajah), Gurun, Sukun, Taliwang (di Pulau Sumbawa)
Pulau Sapi, Dompo (Dompu), Sang Hyang Api (Pulau Sangeang), Bima Seram,
Hutan Kendali (Pulau Buru), Pulau Gurun atau Lombok Merah, Sasak
(dikatakan "diperintah seluruhnya"), dan Bantayan (Bantaeng) Luwuk
(Kesultanan Luwu), Udamakatraya dan pulau lain-lainnya, "Pulau" Makasar,
Pulau Buton (Kesultanan Buton), Pulau Banggawi (Kepulauan Banggai),
Kunir, Galian, Salayar (Pulau Selayar), Sumba, Solot (Pulau Solor),
Muar, Wanda(n) (Kepulauan Banda), Ambon atau pulau Maluku, Wanin
(Semenanjung Onin, di Kabupaten Fakfak). Seran (Pulau Seram) dan Timor.
Siam,
Ayodyapura, Darmanagari Marutma, Rajapura, Singanagari Campa, Kamboja,
dan Yawana disebut bukan sebagai bawahan tetapi sebagai negara sahabat
(mitreka satata).
Kelahiran SoekarnoDemikian
pula, ikhwal Presiden Soekarno yang dilahirkan dua pekan setelah Gunung
Kelud meletus pada 22-23 Mei 1901 pukul 06.00 WIB dari pasangan suami
istri, Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai pada 6 Juni
1901.
Sebelumnya Soekarno bernama Koesno Soesrodihardjo namun karena sering sakit-sakitan hingga namanya diganti menjadi Soekarno.
Ibundanya
berkata, "Kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan
menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah
enam pagi di saat fajar menyingsing." "Kita orang Jawa mempunyai
kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit,
nasibnya telah ditakdirkan terlebih dahulu. Jangan lupakan itu! Jangan
sekali-kali kau lupakan Nak, bahwa engkau ini putra sang fajar".
Perkataan
itu terbukti Presiden Soekarno yang dikenal dengan Bung Karno itu
menjadi Presiden RI pertama dan namanya harum di seluruh dunia dengan
nasionalismenya yang tinggi hingga dapat mempersatukan seluruh wilayah
di nusantara, dan dia pun sangat anti kolonialisme dan imperialisme.