Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan

Wedar Hayuning Penataran, Kembalinya Dharma Sebagai Jati Diri Bangsa



JavaMagazine (Blitar) - Para kaum spiritual Hindu yang ingin Bangsa Indonesia kembali kembali berjaya, Sabtu siang (01/11) menggelar upacara Wedar Hayuning Penataran, Sesaji Wilujengan Nagari di Kompleks Candi Penataran, Blitar, Jawa Timur.

Acara yang dihadiri umat Hindu seluruh belahan nusantara yang dimotori oleh Komunitas Forum Spiritual Hindu Kabuputan/Kota Blitar.

Digelarnya ritual sesaji Hayuning Penataran dengan sesaji Mahesa Lawung (kerbau bule,red) dalam rangka Wulujengan Nagari (selamatan negara). Ritual ini digelar memohon kepada Yang Maha Kuasa agar bangsa ini diingatkan kembali ke jalan darma yang sudah dicantumkan dalam Pustaka Suci Weda.

Upacara ini sendiri dilakukan sejak zaman Kerajaan Kediri, Singasari dan Majapahit. Dan upacara kerajaan ini sempat berhenti di masa Kerajaan Demak Islam selama kurang lebih 30 tahun, karena tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Dalam kegiatan upacara ini terdiri dari dua tahapan yakni Dewatyatnya (melakukan korban suci kepada Yang Maha Kuasa), Pitrayatnya (menghadirkan ruh leluhur, secara adman, agar ikut mendoakan).
Dengan mengambil Tema 'Wedhar Hayuning Penataran' karena Candi Penataran merupakan sejarah anak bangsa yang tidak lekang oleh jaman. Candi Penataran adalah saksi bisu dan saksi nyata, bahwa ribuan tahun lalu Bangsa Jawa ini telah harum namannya seantero dunia.

"Jati diri bangsa ini telah merosot, oleh karena itulah dasar acara ini digelar. Karena menyikapi dan memandang moralitas anak bangsa sudah dari relnya darma, kemerosotan moral sudah terjadi, penyimpangan moral dirasakan disana-sini," kata Drs Yulianto ketua panitia, sekaligus Darma Duta Nusantara.

Ditambahkan Yulianto, jika kita mau melihat, relief Candi Penataran, disanalah sejarah Bangsa Jawa ditunjukkan. "Bangsa Jawa didatangi oleh suku Inkamaya, Suku Yahudi, Suku Mesir , orang-orang China dan orang-orang Arab yang belajar tentang pawukon dan dinten pitu pekenan gangsal. Di relief-relief candi menceritakan kita adalah bangsa yang besar, dan mengapa sekarang menjadi bangsa yang kerdil," jelasnya.

Atas dasar tersebut digelarnya acara ini di Candi penataran sebagai moment kebangkitan kembali kesadaran sebagai bangsa Indonesia.

"Salah satu bukti kemrosotan Bangsa Jawa adalah mereka malu memakai Bahasa Jawa, berbusana Jawa. Padahal jika kita paham Jawa dari kata Arjawa yang berarti jujur, maka seharusnya saat ini kita malu dengan kondisi sekarang ini," kata dia.

Yang menarik dari upacara Wedar Hayuning Penataran, Sesaji Wilujengan Nagari ini adalah Sapta Maha Resi Hindu dari Jawa dan Bali membentuk formasi cakra Wisnu.

"Tahun 2013 kita membentuk formasi Trisula yang juga senjata Mahadewa (Syiwa). Sedangkan tahun ini menggunakan formasi Cakra yang juga senjata Dewa Wisnu. Kalau dalam Bhagawadgita pemutaran roda kehidupan itu namannya Cakram. Ia yang tidak ikut memutar roda kehidupan ini akan tergilas. Kalau tahun lalu kita memohon kekuatan, maka dengan kekuatan itu memutar roda kehidupan agar tetap mendapatkan tuntutan yang Yang Maha Kuasa," kata Kolonel (Purn) I Nengah Dana, mantan Sekkum PHDI Pusat yang sekarang menjabat sebagai Sabhawala (Dewan Pakar) PHDI Pusat.

Tari "Mistis" Seblang Ditetapkan Menjadi Warisan Budaya Nasional

JavaMagazine (Banyuwangi) - Ajang pariwisata tahunan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) sukses digelar di Banyuwangi, Sabtu (22/11/2014) kemarin. Event fashion berbasis budaya lokal ini tiap tahunnya mengusung tema budaya lokal. Tahun ini, tema yang diusung adalah Tari Seblang yang merupakan tarian ritual tertua di Banyuwangi dan telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Nasional oleh pemerintah pusat.

Tari ini dimaksudkan sebagai usaha memperoleh ketenteraman, keselamatan, dan kesuburan tanah agar hasil panen melimpah. Ritual ini ditarikan seorang penari dalam kondisi 'trance', kondisi tak sadarkan diri, sebagai penghubung warga desa dengan arwah leluhurnya.

"Kami selalu mengusung budaya lokal dalam setiap event wisata. Ini berbeda dengan kebanyakan daerah lain yang justru membawa tema budaya global ke level lokal," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Turut hadir dalam acara wisata itu, antara lain, Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert O. Blake. Puluhan ribu warga dan wisatawan berbaur menikmati ajang fashion budaya tahunan tersebut.

Sebanyak 500 peserta berparade di beberapa jalan utama di Banyuwangi. Mereka mendefinisikan ritual Tari Seblang ke dalam busana yang dipamerkan. Semuanya tampak meriah dan gemerlap tanpa menghilangkan makna dari ritual Tari Seblang.

Ada yang memasang berbagai ornamen mirip buah-buahan di sekitar mahkota kepala sebagai tanda syukur atas hasil bumi yang melimpah. "Kreativitas anak-anak muda ini patut diberi ruang. Dengan kemasan menarik, bisa menjadi event wisata yang dapat menggerakkan perekonomian masyarakat," kata Anas.

Anas menjelaskan, ritual Tari Seblang hingga sekarang masih lestari. Setahun diselenggarakan dua kali di desa yang berbeda, yaitu di Desa Olehsari dan Desa Bakungan. Di Desa Olehsari, ritual ini digelar pada hari ketujuh setelah Idul Fitri dengan penari gadis atau janda yang masih segaris turunan dari penari-penari Seblang sebelumnya. Ia menari dalam keadaan tak sadarkan diri selama sepekan. Sementara Seblang di Desa Bakungan diselenggarakan pada malam ketujuh setelah Idul Adha dengan penari perempuan yang sudah menopause. Ia juga menari dalam kondisi tak sadarkan diri

"Kami masih punya banyak sekali potensi seni dan budaya yang bisa diangkat jadi tema event wisata pada tahun-tahun mendatang. Event wisata seperti karnaval modern harus berbasis pada potensi seni-budaya Banyuwangi. Kemasan boleh glamour dan modern tapi akar seni-budaya Banyuwangi tidak boleh tercerabut. Itulah yang membedakan Banyuwangi Ethno Carnival dengan karnaval-karnaval lainnya di Indonesia, bahkan di dunia," jelas Anas.

Bukan hanya tari dan ritual adatnya yang ditampilkan, BEC juga menyajikan musik tradisional Banyuwangi. "Itulah yang membuat BEC satunya-satunya karnaval di dunia yang diiringi oleh live music tradisional," tuturnya.

Anas menambahkan, event wisata berbasis seni budaya juga menjadi ajang konsolidasi budaya di daerahnya. "Sekaligus ini sebagai bagian dari upaya mempelajari sejarah dan budaya. Saat ini, pelajaran sejarah dan budaya semacam ini sudah saatnya diperkenalkan di luar kelas, tidak hanya di dalam kelas," kata Anas.

Kereta Kencana Jokowi

www.danahibah.web.id
JavaMagazine (Jakarta) - Presiden terpilih Joko Widodo dan wakilnya Jusuf Kalla rencananya akan diarak menggunakan kereta kencana saat pelantikan, Senin (20/10/2014). Kini kereta kencana itu masih berada di anjungan DKI Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Ciracas, Jakarta Timur.

Utusan Dinas Pariwisata telah datang untuk mengecek kondisi kereta tersebut. Pantauan Warta Kota, Kamis (16/10/2014), kereta itu berada tepat di dekat pintu masuk, tempat penerangan anjungan DKI Jakarta, TMII. 
 
Kereta itu memiliki panjang lebih kurang 3 meter, lebar 1,5 meter, dan tinggi 2 meter. Kereta diberi warna merah dengan dihias ornamen ukiran berwarna emas di beberapa bagian, seperti di bagian pelek roda, bodi depan, belakang, dan samping.

Selain itu, ukiran kepala naga juga terlihat di kolong kereta dengan jumlah tiga buah. Kepala naga juga menghiasi gagang di dua pintu kereta itu. Meskipun demikian, pada bagian gagang pintu kiri sudah tampak menggunakan kawat agar pintu tidak terlepas. Dua buah lampu berada di depan dekat kursi kemudi.

Sedangkan kursi penumpang diberi kursi busa dilapisi kulit berwarna hitam dengan duduk saling berhadapan depan belakang.

Pada roda bagian belakang berdiameter lebih kurang 50 cm. Sedangkan roda depan berdiamater 30 cm.

"Kereta kencana ini cukup menarik, seperti kereta kencana pada kerajaan di lnggris. Bahkan, menurut saya, lebih bagus, karena pada roda kayunya diberi ornamen ukiran berwarna emas," kata Edward Tambunan, Juru Penerang Anjungan DKI Jakarta, TMII.

Terlebih, lanjutnya, ukiran juga menghiasi beberapa bagian kereta kencana tersebut. Kereta kencana tersebut, kata Edward, berasal dari Solo. Kereta itu merupakan replika dari kereta kencana seperti yang biasa digunakan kerajaan pada zaman dahulu. "Yang bisa menaiki kereta kencana dahulu hanya Sultan dan keluarga keraton," katanya.

Festival Teater Jogja Angkat Multikulturalisme dalam Ruang Sosial

JavaMagazine (Yogyakarta) - Lima kelompok teater akan ikut ambil bagian untuk memeriahkan  yang digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, 22-24 September setiap pukul 19.00 WIB.

"Tahun ini, penyelenggaraan Festival Teater Jogja akan memasuki tahun ke enam. Tema yang diangkat adalah Multikulturalisme dalam Ruang Sosial Kini," kata Kepala Taman Budaya Yogyakarta Diah Tutuko Suryandaru di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, kelompok teater yang dijadwalkan tampil mengisi acara akan mengangkat berbagai isu sosial, budaya, politik, ekonomi dan agama yang kerap terjadi dalam masyarakat.

Kelompok teater yang akan tampil, lanjut dia, adalah kelompok yang belum pernah tampil dalam festival teater yang digelar oleh Taman Budaya Yogyakarta sebelumnya.

"Mereka juga akan saling berkompetisi," katanya.

Lima kelompok yang dijadwalkan tampil dalam festival itu adalah Teater Blank ON akan mementaskan pertunjukan berjudul Urip Urup dan Teater Bumi Bekage dengan judul Orang-Orang Payung pada Senin (22/9).

Pada Selasa (23/9) akan tampil Teater Suwekaprabha dengan pertunjukan berjudul Cerita Nyai Soemirah dan Teater Rinengga dengan judul Pasir Menari.

Sedang pada Rabu (24/9) akan tampil Teater Kebelet dengan judul Modus Spionase dan dipungkasi penampilan eksibisi dari ISI Yogyakarta.

Setiap kelompok teater diberi selama 45 menit dan maksimal 60 menit untuk menampilkan pertunjukannya.

"Festival ini terbuka untuk umum. Masyarakat tidak akan dipungut biaya jika ingin melihat pertunjukan ini," katanya.

Ia berharap, festival teater tersebut dapat mendorong perkembangan teater di Yogyakarta, khususnya pengembangan kelompok-kelompok teater yang masih baru.

"Kelompok teater yang masih baru perlu terus dibina dan dikembangkan sehingga memiliki kualitas yang baik. Kegitan ini juga akan semakin mengukuhkan Yogyakarta sebagai kota seni dan budaya," katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Festival Teater Jogja 2014 Sri Wahyuni mengatakan, kegiatan tersebut bisa menjadi ruang apresiasi publik dan parameter perkembangan teater di Yogyakarta. (Ant)

Menguak Pemahaman Sedulur Papat, Limo Pancer

JavaMagazine (Yogyakarta) - Mengambil dari Kitab Kidungan Purwajati tulisannya dimulai dari lagu Dhandanggula yang bunyinya sebagai berikut:

Ana kidung ing kadang Marmati Amung tuwuh ing kuwasanira Nganakaken saciptane Kakang Kawah puniku Kang rumeksa ing awak mami Anekakake sedya Ing kuwasanipun Adhi Ari-Ari ingkang Memayungi laku kuwasanireki Angenakken pangarah Ponang Getih ing rahina wengi Ngrerewangi ulah kang kuwasa Andadekaken karsane Puser kuwasanipun Nguyu-uyu sabawa mami Nuruti ing panedha Kuwasanireku Jangkep kadang ingsun papat Kalimane wus dadi pancer sawiji Tunggal sawujud ingwang.

Pada lagu diatas, disebutkan bahwa “Saudara Empat” itu adalah Marmati, Kawah, Ari – ari (plasenta/ tembuni) dan Darah yang umumnya disebut Rahsa. Semua itu berpusat di Pusar yaitu berpusat di Bayi.
Jelasnya mereka berpusat di setiap manusia. Mengapa disebut Marmati, kakang Kawah, Adhi Ari – Ari, dan Rahsa? Marmati itu artinya Samar Mati (Takut Mati)! Umumnya bila seorang ibu mengandung sehari - hari pikirannya khawatir karena Samar Mati. Rasa khawatir tersebut hadir terlebih dahulu sebelum keluarnya Kawah (air ketuban), Ari – ari, dan Rahsa. Oleh karena itu Rasa Samar Mati itu lalu dianggap Sadulur Tuwa (Saudara Tua). Perempuan yang hamil saat melahirkan, yang keluar terlebih dahulu adalah Air Kawah (Air Ketuban) sebelum lahir bayinya, dengan demikian Kawah lantas dianggap Sadulur Tuwa yang biasa disebut Kakang (kakak) Kawah. Bila kawah sudah lancar keluar, kemudian disusul dengan ahirnya si bayi, setelah itu barulah keluar Ari – ari (placenta/ tembuni).

Karena Ari – ari keluar setelah bayi lahir, ia disebut sebagai Sedulur Enom (Saudara Muda) dan disebut Adhi (adik) Ari-Ari. Setiap ada wanita yang melahirkan, tentu saja juga mengeluarkan Rah (Getih=darah) yang cukup banyak. Keluarnya Rah (Rahsa) ini juga pada waktu akhir, maka dari itu Rahsa itu juga dianggap Sedulur Enom. Puser (Tali pusat) itu umumnya gugur (Pupak) ketika bayi sudah berumur tujuh hari. Tali pusat yang copot dari pusar juga dianggap saudara si bayi. Pusar ini dianggap pusatnya Saudara Empat. Dari situlah muncul semboyan ‘Saudara Empat Lima Pusat’

Keempat nafsu yang digambarkan oleh ke empat hewan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
Amarah : Bila manusia hanya mengutamakan nafsu amarah saja, tentu akan selalu merasa ingin menang sendiri dan selalu ribut/ bertengkar dan akhirnya akan kehilangan kesabaran. Oleh karena itu, sabar adalah alat untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT.

Supiyah / Keindahan : Manusia itu umumnya senang dengan hal hal yang bersifat keindahan misalnya wanita (asmara). Maka dari itu manusia yang terbenam dalam nafsu asmara/ berahi diibaratkan bisa membakar dunia.

Aluamah / Serakah : Manusia itu pada dasarnya memiliki rasa serakah dan aluamah. Maka dari itu, apabila nafsu tersebut tidak dikendalikan manusia bisa merasa ingin hidup makmur sampai tujuh turunan.
Mutmainah / Keutamaan : Walaupun nafsu ini merupakan keutamaan atau kebajikan, namun bila melebihi batas, tentu saja tetap tidak baik. Contohnya: memberi uang kepada orang yang kekurangan itu bagus, namun apabila memberikan semua uangnya sehingga kita sendiri menjadi kekurangan, jelas itu bukan hal yang baik.

Maka dari itu, saudara empat harus diawasi dan diatur agar jangan sampai ngelantur. Manusia diuji agar jangan sampai kalah dengan keempat saudaranya yang lain, yaitu harus selalu menang atas mereka sehingga bisa mengatasinya. Kalau Manusia bisa dikalahkan oleh saudara empat ini, berarti hancurlah dunianya. Sebagai Pusat, manusia harus bisa menjadi pengawas dan menjadi patokan. Benar tidaknya silakan anda yang menilai.

SEDULUR PAPAT LIMA PANCER DAN SISTEM KEMALAIKATAN.
Setelah Islam masuk P.JAWA kepercayaan tentang saudara empat ini dipadukan dengan 4 malaikat di dunia Islam yaitu Jibril, Mikail , Isrofil, Ijro'il. Dan oleh ajaran sufi tertentu di sejajarkan denga ke'empat sifat nafsu yaitu: Nafsu Amarah, Lawwamah, Sufiah dan Mutmainah.

Pertama Jibril atau dalam bahasa ibrani Gabriel artinya pahlawan tuhan fungsinya adalah penyampai informasi, didalam islam dikenal sebagai penyampai wahyu pada para nabi. Dalam konsep islam Jawa Jibril diposisikan pada kekuatan spiritual pada KETUBAN. Ada pandangan yang menyatakan setelah N.Muhammad wafat maka otomatis Jibril menganggur karena beliaulah orang yang menerima wahyu terakhir.

Tapi tidak demikian dalam pandangan Jawa, setiap orang di sertai Jibrilnya. Hakikatnya hanya ada satu Jibril di alam raya ini tapi pancaran cahayanya ada dalam setiap diri. seperti Ruh tidah pernah dinyatakan dalam bentuk jamak didalam Al-Quran. Tetapi setiap diri mendapat tiupan ruh dari tuhan dan ruh tersebut menjadi si A, si B, si C Dst.. satu tetapi terpantul pada setiap cermin sehingga seolah2 setiapm cermin mengandung Ruh, dan manusia sebenarnya adalah cermin bagi sang diri. setiap diri menerima limpahan cahayanya.
Diantara limpahan cahayanya adalah Jibril yang menuntun setiap orang.

Jibril akan menuntun manusia kejalan yang benar, yang telah membersihkan dirinya, membersihkan cerminnya, membersihkan hatinya. Jibril lah yang menambah daya agar teguh dan tebal keimanan seseorang. dalam khasanah jawa Jibril berdampingan dengan Guru sejati, bersanding dengan diri Pribadi.
Jibril tidak mampu mengantarka diri Nabi ke Sidratul Muntaha dalam Mij'raj beliau juga diceritakan ketika Jibril menampakan diri kehadapan rasul selalu ditemani malaikat mulia lainnya yaitu Mikail isrofil Ijroil.
Jelas kiranya bahwa kahadiran ketuban ketika membungkus janin ternyata disertai saudara2nya yang lain. Ditinjau dari keddudukannya yang keluar paling awal maka disebut sebagai kakak atau kakang (saudara tua) si bayi. begitu bayi lahir maka selesailah sudah tugas ketuban secara fisik. tetapi exsistensi ketuban secara ruhaniah ia tetap menjaga dan membimbing bayi tersebut sampai akhir hayat.

Secara extensi Jibril diciptakan setelah malaikat Mikail. dan Tali Pusar ada lebih dulu dari pada selaput yang membungkus janin di pintu rahim (cervix)

Ke Dua Malaikat Israfil. Menurut hadis malaikat Israfil diciptakan setelah penciptaan Arsy ( Singgasana Tuhan ) disebut sebagai malaikat penggenggam alam semesta, ia meniup Terompet Pemusnahan Dan Pembangkitan. Ia digambarkan menengadah ke atas untuk melihat jadwal kiamat yang ada di Lawh Al Mahfuzh.

Israfil di sepadankan dengan ari-ari, tembuni atau Placenta, Ari-Ari adalah yang memayungi sang janin sampai ketempat tujuan dialah yang memberikan keamanan menyalurkan makanan dan kenyamanan pada janin dengan ari-ari ini kehidupan berlangsung dalam janin.
Exsistensi Ari-ari ini disejajarkan dengan malaikat Israfil Dalam kelahiran janin, Ari-ari diterima sebagai saudara muda (adik).

Meskipun jasadnya telah tak ada lagi ari-ari tetap memberikan perlindungan bagi manusia setelah dilahirkan. Dari sisi keberadaanya malaikat Israfil dicipta terlebih dahulu dari pada malaikat Mikail dan Jibril As. Israfil diyakini sebagai Pelita Hati Bagi manusia agar hatinya tetap terang, Itulah sebabnya sejahat-jahatnya manusia masih ada secercah cahaya dalam hatinya tetap ada kebaikan yang dimilikinya meski hanya sebesar debu...

Yang ketiga adalah Malaikat Mikail, Salah satu malaikat yang menjadi pembesar para malaikat.. Tugas malaikat Mikail adalah Memelihara Kehidupan. Dalam hadis diceritakan bahwa malaikat Mikail mengemban tugas memelihara pertumbuhan pepohonan, kehidupan Hewan juga Manusia.. Dialah yang mengatur angin dan hujan dan membagi rejeki pada seluruh mahluk.

Pada konsep sedulur papat yang sudah di sesuaikan dengan ajaran Islam, Tali Pusar merupakan Lokus, tempat dudukan bagi malaikat Mikail dia merupakan tali penghubung bagi kehidupan manusia.Zat zat makanan, Oksigen dan Zat yang perlu dibuang dari tubuh janin agar tidak meracuni tubuh janin. Subhanallah.. Dia telah mengatur kehidupan manusia dalam rahim melalui malaikat malaikatnya.
Mikail dipandang orang jawa sebagai saudara yang memberikan sandang, pangan dan papan, Jika seseorang memohon perlindungan tuhan maka Mikail yang akan menjalankan perintah Tuhan untuk melindunginya.

Ke Empat adalah Malaikat Ijroil. Malaikat Maut yang dipercaya sebagai yang bertanggung jawab akan Kematian. Kehadirannya amat ditakuti Manusia.. Jika ajal telah tiba maka ia akan Me wafatkan manusia sesuai waktunya.

Dalam konsep sedulur papat Malaikat maut ini ternyata saudara Manusia sendiri bukan orang lain dan ia tidak akan menyalahi tugasnya bila seseorang belum sampai ajalnya dia tak akan mewafatkannya.. Dia hadir untuk meringankan penderitaan manusia, saudara sejati pasti melindungi bila yang bersangkutan selalu dijalan yang benar. Bayangkan bila manusia tidak bisa mati tetapi hidupnya menderita..? apa tidak tersiksa..? bayangkan bila ada orang yang mau mati aja sulitnya bukan main.. Nauzubillah..

Ijroil disebut sebagai kekuatan Tuhan yang berada didalam Darah, Dalam kehidupan sehari hari Ijroil bertugas untuk menjaga hati yang suci, Jika hati terjaga kesuciannya maka ketakutan akan hidup menderita dan kematian akan tak ada lagi.

Jika ajal telah sampai maka Ijroil mengorganisasi malaikat lainnya, mengorganisasi saudara saudara lainnya untuk mengakhiri hidupnya. Permana yang memberikan kekuatan pada sang Jiwa diangkat keluar tubuh, sehingga tubuh tak dapat lagi dikendalikan oleh jiwa. Ruh penyambung hidup kita lepas.. tubuh menjadi lunglai lak berdaya dan ini bentuk umum kematian bagi manusia.. loh kok gitu yaa..? Nah yang tidak umum yaaa.. bila Sang Diri Sejati manusia mampu memimpin saudara-saudaranya untuk melepaskan Jiwa manusia kealam Gaib. Orang demikian sudah mempu menyongsong kematiannya dengan benar, dia memberitahukan pada sanak dan saudaranya kapan kematiannya akan datang.

Semua saudara gaib ini sudah menjadi satu dengan tubuh kita, ketika dalam rahim sendiri-sendiri wujudnya. tapi ketika sang Bayi sudah lahir hanya ada satu wujud. Empat saudara kita tetap menyertai kita dalam wujud Ruh dan Tidak Kasat Mata.

Ada kutipan Ayat dalam Al-Quran yang perlu di simak..
"In Kullu nafsin lamma alayha hafizh" > 'Setiap diri niscaya ada penjaganya' Atau "Wa huwa al-qahir fawq iba'dih wa yusril alaykum hafazhah hatta idza ja'a ahadakum al-mawt tawaffathu rusuluna wahum la yufarrithun" >' Dialah yang berkuasa atas semua hambanya. Dan dia mengutus kepada kalian Penjaga-Penjaga untuk melindungimu. Jika seseorang sudah waktunya mati, maka utusan-utusan kami itu mewafatkannya tanpa keliru"

Simbolisasi sedulur papat limo pancer dalam perwayangan
Semar sebagai pamomong keturunan Saptaarga tidak sendirian. Ia ditemani oleh tiga anaknya, yaitu; Gareng, Petruk, Bagong. Ke empat abdi tersebut dinamakan Panakawan. Dapat disaksikan, hampir pada setiap pegelaran wayang kulit purwa, akan muncul seorang ksatria keturunan Saptaarga diikuti oleh Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Cerita apa pun yang dipagelarkan, ke lima tokoh ini menduduki posisi penting. Kisah Mereka diawali mulai dari sebuah pertapaan Saptaarga atau pertapaan lainnya. Setelah mendapat berbagai macam ilmu dan nasihat-nasihat dari Sang Begawan, mereka turun gunung untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, dengan melakukan tapa ngrame. (menolong tanpa pamrih).

Dikisahkan, perjalanan sang Ksatria dan ke empat abdinya memasuki hutan. Ini menggambarkan bahwa sang ksatria mulai memasuki medan kehidupan yang belum pernah dikenal, gelap, penuh semak belukar, banyak binatang buas, makhluk jahat yang siap menghadangnya, bahkan jika lengah dapat mengacam jiwanya. Namun pada akhirnya Ksatria, Semar, Gareng, Petruk, Bagong berhasil memetik kemenangan dengan mengalahkan kawanan Raksasa, sehingga berhasil keluar hutan dengan selamat. Di luar hutan, rintangan masih menghadang, bahaya senantiasa mengancam. Berkat Semar dan anak-anaknya, sang Ksatria dapat menyingkirkan segala penghalang dan berhasil menyelesaikan tugas hidupnya dengan selamat.

Mengapa peranan Semar dan anak-anaknya sangat menentukan keberhasilan suatu kehidupan? Semar merupakan gambaran penyelenggaraan Illahi yang ikut berproses dalam kehidupan manusia. Untuk lebih memperjelas peranan Semar, maka tokoh Semar dilengkapi dengan tiga tokoh lainnya. Ke empat panakawan tersebut merupakan simbol dari cipta, rasa, karsa dan karya. Semar mempunyai ciri menonjol yaitu kuncung putih. Kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta.

Gareng mempunyai ciri yang menonjol yaitu bermata kero, bertangan cekot dan berkaki pincang. Ke tiga cacat fisik tersebut menyimbolkan rasa. Mata kero, adalah rasa kewaspadaan, tangan cekot adalah rasa ketelitian dan kaki pincang adalah rasa kehati-hatian. Petruk adalah simbol dari kehendak, keinginan, karsa yang digambarkan dalam kedua tangannya. Jika digerakkan, kedua tangan tersebut bagaikan kedua orang yang bekerjasama dengan baik. Tangan depan menunjuk, memilih apa yang dikehendaki, tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih. Sedangkan karya disimbolkan Bagong dengan dua tangan yang kelima jarinya terbuka lebar, artinya selalu bersedia bekerja keras.

Cipta, rasa, karsa dan karya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Cipta, rasa, karsa dan karya berada dalam satu wilayah yang bernama pribadi atau jati diri manusia, disimbolkan tokoh Ksatria. Gambaran manusia ideal adalah merupakan gambaran pribadi manusia yang utuh, dimana cipta, rasa, karsa dan karya dapat menempati fungsinya masing-masing dengan harmonis, untuk kemudian berjalan seiring menuju cita-cita yang luhur. Dengan demikian menjadi jelas bahwa antara Ksatria dan panakawan mempunyai hubungan signifikan. Tokoh ksatria akan berhasil dalam hidupnya dan mencapai cita-cita ideal jika didasari sebuah pikiran jernih (cipta), hati tulus (rasa), kehendak, tekad bulat (karsa) dan mau bekerja keras (karya).

Simbolisasi ksatria dan empat abdinya, serupa dengan 'ngelmu' sedulur papat lima pancer. Sedulur papat adalah panakawan, lima pancer adalah ksatria

Air Terjun Dan Pantai Yang Unik Dan Menawan di Yogyakarta

Posisi dari atas jalan setapak menuju Air terjun JoganJavaMagazine (Yogyakarta) Gunungkidul di Yogyakarta tak cuma punya deretan pantai yang cantik. Tapi juga objek wisata unik yaitu Air terjun Pantai Jogan. Di sini Anda tak hanya bisa bermain di pantai, tapi juga di air terjun. Asyik!
Siapa yang sudah tahu dengan eksotisme Air terjun Pantai Jogan di Gunungkidul, Yogyakarta? Mungkin ada beberapa yang tahu, tapi saya yakin untuk saat ini sebagian besar tidak mengetahui mengenai Jogan.
Karena letaknya jauh, dan agak terpencil, dan papan petunjuknya pun kecil. Kalau Anda tidak jeli, tidak akan terlihat loh. Ya, air terjun sekaligus Pantai Jogan terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
Pesona air terjunnya yang mengarah ke laut bisa membuat Anda berdecak kagum akan keajaiban Sang Pencipta. Di atas Air terjun Jogan, diapit oleh deretan pohon palma. Keindahan pantai ini juga dilengkapi dengan bebatuan yang eksotis.
Disamping itu, gua-gua kecil di Jogan pun menjadi ciri khas pantai ini. Untuk ke lokasi Air terjun Jogan, Anda harus berhati-hati. Karena jalan setapaknya masih dari tanah serta bebatuan dan sangat sempit. Anda harus berpegangan jika tidak ingin terjatuh. Saya saja hampir terpeleset..
Saya ke Pantai Jogan pada hari Minggu, bulan Maret 2013. Waktu tempuh perjalanan ke Jogan ini sekitar 2 jam dari pusat Kota Yogya (sekitar 70 km dari Kota Yogua). Saya dan teman berangkat pukul 08.00 sampai jam 10.00. Patokannya arah Pantai Siung (200 m dari barat Pantai Siung).
Untuk tiket masuknya satu orang Rp 3.000 sudah termasuk tiket masuk jika Anda masuk ke Pantai Siung, tinggal parkirnya bayar Rp 2.000. Waktu saya ke sana, hanya ada tukang parkir dan penjaga warung. Tidak terlihat wisatawan di sini.
Saya langsung berpikir, betul tidak ya ini tempat wisata? Kok sepi begini? Tapi saya penasaran, saya tanya tukang parkirnya.
"Maaf Pak, pantainya sebelah mana ya? Kok sepi ya?"
Bapaknya pun menjawab, "Oh iya memang di sini sepi mbak. Pantainya arah ke bawah lewat jalan setapak itu," katanya sambil mengarah ke bawah.
Saya sempat bertanya, apakah arahannya salah. Tapi ya sudahlah, saya coba jalan ke bawah dengan sangat hati-hati. Kira-kira berjalan kecil sejauh 10 meter, saya menemukan air terjun. Yippie! Kami langsung ganti baju dan bermain di sana. Bebas, seperti punya sendiri.
Sejenak saya merasa hening, hanya deburan ombak dan gemericik air terjun di sini. Rasanya tenang sekali. Air terjun Jogan tepat berhadapan dengan pantainya. Rasa air terjunnya tawar, tapi air lautnya asin. Di pantai ini kawan-kawan tidak dapat berenang, karena banyak bebatuan karang.
Berada di belakang air terjun dan di depan pantai, itulah posisi saya saat itu. Dari belakang terdengar suara air gemericik air terjun dan di depan terdengar suara deburan ombak Pantai Selatan. Saya tak habis mengucap syukur akan keindahan alam Sang Pencipta. Keren!

Nglanggeran, Penona Gunung Api Purba Nan Elok

Terasering dilihat dari puncak gunung api purba nglanggeranJavaMagazine (Yogyakarta) - Gunung Nglanggeran di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, punya keindahan alam yang tak bisa dipandang sebelah mata. Wisatawan bisa mendaki gunung ketinggian 700 mdpl ini dan mendapatkan pemandangan menawan.

Sensasi mendaki gunung dengan biaya murah bisa dilakukan di Gunung Api Nglanggeran. Di gunung purba ini, wisatawan bahkan tak perlu profesional atau punya banyak pengalaman mendaki gunung.

Gunung ini berada dalam rangkaian Pegunungan Baturagung, didominasi oleh bebatuan raksasa dengan ketinggian mulai 200-700 mdpl. Gunung ini aktif pada 25 juta tahun silam sebelum kemudian mati, mengalami erosi dan penyingkapan. Oleh karena itulah kita bisa melihat batu menjulang tinggi, besar, dan kokoh.

Treknya tidak susah, tidak pula mudah. Saat musim hujan, permukaan tanah agak licin di beberapa titik. Rute pendakian di sela-sela gunung yang sempit menambah keasyikan saat mendaki gunung ini. Ekosistem kupu-kupu cantik menambah ceria suasana, dan kebun bunga matahari menambah indah pemandangan.

Dari atas Gunung Nglanggeran terdapat beberapa titik untuk menikmati panorama alam yang luar biasa cantik. Baik sunrise, sunset, juga malam hari, wisatawan akan dimanjakan pemandangan pesawahan yang indah. Bagi yang ingin camping, bisa memilih tempat sesuai kenyamanan masing-masing.

Surga Baru di Yogyakarta

Sepinya pantai iniJavaMagazine (Yogyakarta) - Jika sudah mulai merasa bosan dengan keramaian pantai-pantai yang ada di Yogyakarta, Anda wajib mengunjungi pantai yang satu ini. Pantai Pok Tunggal di Gunungkidul, sepi dan cantiknya nggak nahan!

Pantai Pok Tunggal terletak di wilayah Gunungkidul, Yogyakarta. Lokasinya tidak jauh dari Pantai Sundak dan Pantai Indrianti. 


Tapi walau jaraknya yang dekat, pantai ini masih terbilang sepi karena memang baru dibuka untuk umum pada tahun 2012 lalu.

Jalan yang masih rusak dan agak jauh mungkin menjadi kendala untuk orang-orang yang ingin menuju ke pantai ini. Namun jika Anda bisa melewati jalan-jalan tersebut, itu semua terbayarkan dengan keindahan Pantai Pok Tunggal.

Perjalanan saya saat mengunjungi pantai ini ditempuh selama satu setengah jam dari Kota Yogya menggunakan motor. Mungkin jika Anda menggunakan mobil akan memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan.

Saking barunya pantai ini, papan penunjuk jalan masih menggunakan tulisan yang dibuat oleh warga sekitar. Tidak seperti pantai-pantai lainnya yang sudah menggunakan marka jalan dari Pemda setempat.

Pantai Pok Tunggal sendiri berukuran lebih kecil dari Pantai Sundak. Sisi menariknya, di sini Anda bisa menaiki tebing pantai dan melihat keindahan seluruh Pantai Pok Tunggal dari atas sana.

Di sekitar pantai juga sudah mulai ada kios-kios. Mulai dari yang berjualan berbagai macam makanan, minuman, penyewaan tenda dan payung, hingga kamar mandi umum untuk bilas. Untuk Anda yang ingin bersantai di pantai dengan tenang, Pantai Pok Tunggal bisa jadi alternatif berlibur.

Pesona Ketep Pass

merapi dari jauhJavaMagazine (Magelang) - Magelang tidak hanya punya Candi Borobudur, masih ada Ketep Pass dan Air Terjun Kedung Kayang yang cantik. Bahkan di Ketep Pass, wisatawan bisa melihat pemandangan 5 gunung sekaligus.

Lokasi wisata alam Ketep Pass berjarak sekitar 30 km dari Candi Borobudur. Letaknya di puncak Bukit Sawangan, Magelang, Jawa Tengah. Ketep pass berada di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Tempat ini merupakan obyek wisata khas gunung api khususnya Merapi.

Fasilitas yang disediakan di sana antara lain Ketep Vocano Center yang terdiri dari miniatur Gunung Merapi, contoh bebatuan letusan Gunung Merapi, poster Puncak Garuda serta beberapa foto aktivitas Gunung Merapi. Pengunjung juga bisa menyaksikan film mengenai sejarah Gunung Merapi dari tahun ke tahun yang berdurasi 25 menit di dalam Ketep Volcano Theater yang memiliki kapasitas 78 tempat duduk.

Selain itu, pengunjung dapat menikmati keindahan panorama 5 gunung sekaligus yaitu Gunung merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro dan Gunung Slamet di pelataran Panca Arga. Mereka bisa menggunakan teropong yang tersedia.

Di sana juga terdapat gardu pandang yang terdiri dari 2 gazebo untuk menikmati keindahan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Harga tiket masuk obyek wisata Ketep sebesar Rp 7.000. Fasilitas lain yang disediakan di sana juga terdapat restoran, musala serta areal parkir yang luas.

Selain Ketep Pass, pengunjung juga bisa menikmati obyek wisata Air Terjun Kedung Kayang yang terletak di Desa Wonolelo, sekitar 3 km dari Ketep Pass. Keistimewaan air terjun dengan ketinggian sekitar 30 meter ini terletak tepat di kaki Gunung Merap. Keindahan alam sekitar masih alami serta berbalut dengan udara sejuk khas pegunungan.

Pengunjung bisa menikmati air terjun dari dua jalur, dari jalur atas dan jalur area bawah air terjun. Untuk jalur atas, pengunjung berjalan sejauh 200 meter melalui anak tangga sampai tepi tebing. Tepat di tepi tebing, air terjun terlihat cukup kecil dan dari sanalah pengunjung bisa menikmati pemandangan Gunung Merapi.

Untuk menuju area bawah air terjun, pengunjung harus berjalan memutar sejauh 500 meter dengan menuruni ratusan anak tangga yang berganti menjadi jalanan tanah yang licin. Setelah itu, melewati area persawahan penduduk. Ketika tiba di tepi sungai, perjalanan dilanjutkan menyusuri bebatuan di sungai.

Namun, perjalanan yang cukup melelahkan untuk mencapai dasar Air Terjun Kedung Kayang terbayar dengan keindahan dan segarnya air terjun ini.

Dari Keraton Untuk Masyarakat


JavaMagazine (Yogyakarta) - Di Indonesia, terdapat berbagai teknik perawatan tubuh tradisional menyesuaiakan dengan adat istiadat di setiap suku dan daerah.

Di kalangan masyarakat Jawa kuno, mereka cenderung menggunakan bahan-bahan alami yang didapatkan dari alam dengan teknik-teknik perawatan secara tradisional. Satu teknik perawatan tubuh yang sangat istimewa yakni perawatan tubuh di kalangan masyarakat keraton, dimana sesuai sejarahnya, keluarga keraton selalu mendapatkan perlakuan istimewa dalam berbagai hal, termasuk dalam perawatan tubuh.

Pada era modern seperti sekarang, bisa dilihat bahwa para puteri keraton selalu tampil cantik dan anggun dalam setiap perhelatan. Sebu saja para puteri dari keraon Kasultanan Yogyakarta, yang hingga kini masih tinggal dalam lingkup keraton dengan segala tradisinya.

Warisan tradisi kecantikan Jawa tersebut banyak menginspirasi banyak pihak untuk menghadirkan perawatan kecantikan sejenis kepada masyarakat luas. selain turut melestarikan kebudayaan Jawa, perawatan tradisional ini dipercaya lebih aman, dengan resiko lebih kecil dibanding dengan perawatan kecantikan dengan teknologi modern. Hal ini bisa dimengerti, mengingat semua bahan-bahan dalam perawatan kecantikan tradisional menggunakan bahan-bahan alami, sedangkan perawatan kecantikan modern kebanyakan dari bahan-bahan kimia yang tentunya mempunyai efek samping.

Antusiasme masyarakat terhadap perawatan kecantikan secara tradisional ini sangat luar biasa, hal ini bisa dilihat dengan menjamurnya Griya Kecantikan dan Perawatan Tubuh di berbagai tempat, Hotel Berbintang, hingga salon-salon modern yang mulai melirik perawatan kecantikan "Ala Keraton" ini. (Ed).

Pilih Permata Yang Anda Sukai !

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 

Powered by Java Magazine