Tampilkan postingan dengan label Java. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Java. Tampilkan semua postingan

Dodol Jadi Jawara di Italia

JavaMagazine - Siapa bilang dodol cuma sukses di pasaran lokal? Buktinya, dodol yang dimodifikasi dengan menambahkan cokelat dan berbagai buah-buahan sukses go international. Tak tanggung-tanggung, makanan khas Garut itu berhasil meraih penghargaan bergengsi sebagai Produk Niche dalam Pameran Makanan Internasional Tutto Food yang digelar pertengah Mei lalu di Milan, Italia.

Penghargaan itu diberikan kepada produk makanan yang melestarikan tradisi makanan lokal namun dikemas dengan sentuhan khas dan inovatif sehingga dapat diterima pasar. Selain itu, produk tersebut dianggap bisa menyangga dan mendorong meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.

 “Semoga penghargaan ini dapat memberikan nilai tambah bagi produk bersangkutan dalam menghadapi persaingan pasar,” kata Wakil Kepala Indonesia Trade Promotion Centre (ITPC) atau Pusat Promosi Perdagangan Produk Ekspor di Milan, Indah Dwiadni dalam surat elektroniknya yang diterima JM, baru-baru ini.

Indah berharap, penghargaan itu mendorong pengusaha muda lainnya untuk berinisiatif mengolah dan melestarikan makanan tradisional daerah sehingga memiliki nilai jual lebih. Produk dodol olahan tersebut dikembangkan oleh Kiki Gumelar, seorang pengusaha muda asal Garut, Jawa Barat yang mendirikan perusahaan berskala kecil dan menengah dengan nama UD Cokelat.

Perusahaan tersebut fokus menggarap dan mengolah dodol tradisional dipadu cokelat. Beberapa produknya tampil dalam kemasan tradisional bambu yang populer disebut ‘besek’, boboko (bakul) atau tas mini wanita. Dua labelnya yaitu Chocodot rasa original dan rasa apel berhasil memperoleh penghargaan bergengsi tersebut.

Selain menampilkan dodol, peserta dari Indonesia juga menampilkan produk makanan laut dalam bentuk kalengan serta bumbu tradisional cepat saji dari PT Toba Rurimi Indah, kopi cepat saji dengan berbagai rasanya dari PT Sari Incofood, serta berbagai varian mi instan dan bumbu masakan serta sambal dari Indofood.

Berbagai produk tersebut mendapat respon positif dari pengunjung pameran yang sebagaian besar merupakan kalangan pebisnis dari bidang retail skala besar, super market, agen, hotel, restoran, café dan juga masyarakat umum.

Pengunjung Italia mengatakan apresiasinya atas kemampuan produsen Indonesia yang mampu mengolah minuman kopi yang diolah dalam berbagai macam rasa yang inovatif, ikan siap saji yang sangat lezat, sambal dan mi instan yang lezat serta cokelat tradisional yang dikemas apik dan menarik.

Pada pameran ini tercatat pengunjung mencapai angka lebih dari 300.000 yang datang dari berbagai negara dari lima benua. Pada kesempatan tersebut terdapat setidaknya 40 pebisnis dari berbagai sektor produk marana yang menyatakan tertarik untuk melakukan kontak dan hubungan dagang dengan berbagai produk asal Indonesia, sebab saat ini pasar Eropa mulai membuka diri terhadap makanan yang dihasilkan negara lain.

 “Globalisasi, terbukanya arus informasi dan makin banyaknya pendatang baru dari Asia, Afrika dan Amerika latin  yang tingal di kawasan Eropa, membuat permintaan pasar terhadap produk makanan eksotis termasuk dari Asia menjadi semakin meningkat. Oleh karena itu sangat baik bila Indonesia yang memiliki sumber daya bahan baku dan bumbu masakan untuk dapat aktif berpartisipasi untuk memperkaya khazanah pasar global di Eropa,” kata Sophie Shelkoff, Direktur ACSAN European Investment Consulting saat mengunjungi booth

Peluang Bisnis Dodol Betawi Yang Bisa Tembus Pasar Ekspor

JavaMagazine (Jakarta) - Jika selama ini dodol diangap makanan tradisional "biasa-biasa" saja alias cuma "beredar" di kampung-kampung dan kota-kota dalam negeri, maka hal itu bisa salah karena dodol betawi juga bisa menembus pasar luar negeri, di antaranya ke Madinah dan wilayah lain Arab Saudi.

"Dodol betawi ini selalu disajikan pada acara festival, acara betawi dan lainnya, sementara distribusinya di Jabodetabek; bahkan kami kirim ke luar negeri," kata pengusaha mikro, Hj Aminah, di Jakarta, Selasa (11/11).

Ia mengatakan, sejalan dengan pasar internasional dodol betawi ini, maka industri rumahan ini harus terus menjaga keaslian rasa makanan khas Jakarta itu.

Untuk pasar dalam negeri, kata dia, permintaan meningkat saat bulan Ramadhan berlangsung.

Sedangkan untuk penjualan ke perorangan, kata dia, banyak juga turis mancanegara yang datang ke tempat dodol betawi itu dibuat.

"Biasanya mereka datang untuk melihat bagaimana proses membuat dodol serta meminta penjelasan dan resepnya. Selain itu mereka juga diberikan pendidikan tentang produksi olahan makanan yang tidak menggunakan bahan pengawet," kata dia.

Bahu Laweyan, "Pemangsa" Pasangan - Pantang Dinikahi

JavaMagazine - Pernah dengar seorang wanita yang setiap kali menikah selalu ditinggal mati pasangannya? Benarkah ia ditakdirkan sial terus? Dalam kultur Jawa, manusia panas itu disebut bahu laweyan. Nah, bagaimana duduk persoalan misteri ini beberapa “pakar” mencoba mengungkapkannya.

Digantikan dengan apa pun kalau nyawa yang jadi taruhan, tak seorang pun mau mengawini seorang bahu laweyan. Lantas, bagaimana menentukan apakah seseorang termasuk kelompok bahu laweyan? Drs. M.M. Sukarto K. Atmodjo, ahli tulisan kuno, dalam tulisannya "Fisiognomi dalam Masyarakat Jawa" yang pernah diseminarkan tahun 1993 di Yogyakarta, secara ringkas pernah menyinggung bahu laweyan.

Bahu laweyan identik dengan wanita tipe raseksa yang selain selalu mengalahkan suami, juga suaminya lekas meninggal. Bersumber pada data naskah-naskah kuno Sukarto mengatakan, ciri-ciri tipe wanita raseksa atau bahu laweyan adalah memiliki tanda dua lingkaran di punggung kiri dan kanan yang disebut sujen pala, serta dua lingkaran di pantat kiri dan kanan atau sujen bokong. Tak jauh berbeda dengan keterangan di atas, Ny. Indah SP seorang wanita paranormal dari Bekasi menuturkan, yang menandai apakah seseorang itu bahu laweyan atau tidak adalah terdapatnya lahir atau toh di punggungnya.

Dalam hal ini. baik Ny. Indah SP maupun Dra. Astuti Hendrato, mantan dosen sastra Jawa UI, menuturkan bahwa sebagian besar masyarakat Jawa meyakini dan percaya tanda-tanda di tubuh atau bentuk anggota badan mencerminkan watak dan nasib seseorang. Misalnya, tahi lalat di bibir berarti orangnya ceriwis. Pemilik tahi lalat di pundak adalah orang yang selama hidupnya berbeban berat. Begitu pula dengan tanda-tanda lain yang ada di bagian-bagian tubuh tertentu.

Mengenai tanda yang menyertai kelompok bahu laweyan, Ny. Astuti menyebutkan adanya benjolan di salah satu bagian bahu. Ciri lain adalah. Gambar ular berbentuk bayang-bayang di bawah kulit tubuhnya. Namun, menurut Astuti gambar ular itu hanya bisa dilihat oleh mereka yang memiliki kemampuan khusus.

Digantikan dengan apa pun kalau nyawa yang jadi taruhan, tak seorang pun mau mengawini seorang bahu laweyan. Lantas, bagaimana menentukan apakah seseorang termasuk kelompok bahu laweyan?
Sementara melihat benjolan dan bayang ular di tubuh tidak bisa dilakukan sembarang orang, ada tanda lain yang lebih mudah untuk dilihat yaitu toh coklat di kulit kepala yang menunjukkan gambar tertentu atau toh berwarna biru yang terdapat di alat kelamin.

Dalam hal ini. baik Ny. Indah SP maupun Dra. Astuti Hendrato, mantan dosen sastra Jawa UI, menuturkan bahwa khusus toh biru ini biasanya tidak hanya terdapat di bagian luar tapi sampai masuk ke dalam organ tersebut.

Menilik letaknya di tempat-tempat yang tersembunyi, tanda ini pun ternyata tak lebih mudah dideteksi dibandingkan dengari benjolan bahu atau bayang ular. "Memang sulit menentukan apakah seseorang gadis atau perjaka calon pasangan hidup termasuk kelompok bahu laweyan atau bukan. Masa ya belum apa-apa sudah mau melihat tanda di daerah rawan, 'kan saru," ujar para ibu tadi bercanda.

Memang secara fisik, kelompok bahu laweyan tidak punya perbedaan mencolok dengan orang biasa. Orang baru bisa menyebutnya bahu laweyan setelah mengetahui rentetan peristiwa buruk yang menimpanya. Tapi secara umum ciri manusia bahu laweyan adalah tumbuhnya rambut putih pada user-user di kepalanya.


Delapan Menteri Wanita Kabinet Kerja Jokowi

JavaMagazine - Komposisi Kabinet Kerja Pemerintahan Jokowi banyak diisi Wanita. Kita mungkin penasaran dengan profil Menteri-menteri dalam susunan Kabinet Kerja tersebut, terutama yang selama ini jarang dikenal melalui media.

Berikut ini Profil delapan Menteri Wanita dalam Kabinet Kerja Pemerintahan yang berhasil dihimpun redaksi.

Profil Delapan Menteri Wanita Kabinet Kerja RI  FeminaKhofifah Indar Parawansa – Menteri Sosial
Wanita kelahiran Surabaya, 19 Mei 1965 ini sudah mengenal dunia politik sejak duduk di bangku kuliah.  Menempuh pendidikan S1 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Surabaya, kemudian dilanjutkan dengan pendidikan magister Faklutas ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia  (1997).  Pada era kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid tahun 1999 – 2001, Khofifah Indar Parawansa pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Namanya mulai disorot publik saat ia, mewakili Fraksi Persatuan Pembangunan, mengkritisi Pemilu 1997 yang penuh kecurangan saat Sidang Umum MPR tahun 1998. Sebelum akhirnya dilantik sebagai Menteri Sosial Kabinet Kerja di bawah pimpinan Presiden Joko Widodo, ibu empat anak ini menjabat sebagai Ketua Umum Muslimat Nahdatul Ulama (NU).    

Prof.dr.Nila Djuwita F.Moeloek, Sp.M - Menteri Kesehatan
Setelah batal dilantik menjadi Menteri Kesehatan pada Kabinet Bersatu II di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, dokter spesialisasi mata sekaligus guru besar ilmu penyakit mata (Oftamologi) di Universitas Indonesia ini aktif menjadi Staf Ahli Divisi Tumor Mata di RSCM Kirana. Sebelum pada akhrinya dilantik menjadi Menteri Kesehatan pada Kabinet Kerja, Nila mendapat tugas sebagai utusan Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk MDGs. Menurutnya angka kemiskinan dapat dikurangi dengan implementasi kebijakan kesehatan yang tepat dan menilai MDGs adalah hulu kesehatan.

Puan Maharani – Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
Dunia politik lekat dalam kehidupannya. Sebagai cucu dari Presiden Pertama Republik Indonesia, sekaligus putri dari pasangan (alm) Taufik Kiemas dan Megawati Soekarnoputri yang menjabat sebagai Ketua Umum DPP PDI Perjuangan), seperti ada ‘keharusan’ bahwa ia akan melanjutkan kiprah orangtuanya di bidang politik. Lulusan Jurusan Komunikasi Massa FISIP Universitas Indonesia ini memulai kariernya di bidang politik dengan menjabat sebagai  Ketua Bidang Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat DPP PDI Perjuangan ( 2005 - 2010) dan Ketua Bidang Politik dan Hubungan Antarlembaga DPP PDIP (2010 - 2015). Sejak tahun 2009 hingga sebelum dilantik menjadi Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di era kepemimpinan Joko Widodo, Puan Maharani tercatat sebagai anggota DPR dari PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan).

Rini Mariani Soemarno – Menteri BUMN
Sepak terjangnya di dunia profesional sudah bicara banyak. Menduduki posisi sebagai presiden komisaris di sejumlah perusahaan besar, wanita kelahiran Amerika Serikat, 9 Juni 1958 ini juga pernah berkarier di bidang pemerintahan, yaitu sebagai  Wakil Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Jakarta (1998) dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Kabinet Gotong Royong (2001-2004), pada era Kepemimpinan. Pada tahun 1995, Rini Mariani Soemarno terpilih sebagai Pemimpin Puncak Terpuji dari Majalah Swa Sembada. Lama tak terdengar kabarnya, ia dipercaya oleh Joko Widodo menjadi Kepala Staf Tim Transisi untuk mempercepat implementasi Sembilan program nyata.

Retno Lestari Priansari Marsudi - Menteri Luar Negeri

Alumni jurusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada angkatan 1981 ini pernah menduduki posisi sebagai Deputi Direktur Kerja Sama Ekonomi Multilateral, Kepala Bagian Ekonomi di KBRI Den Haag, serta pejabat urusan media di Kedubes RI di Canberra.  Retno juga pernah bergabung sebagai staf di Biro Analisa dan Evaluasi untuk kerjasama ASEAN pada 1986. Kemudian, wanita kelahiran Semarang, 27 November 1962 ini sempat menjadi duta besar RI untuk Kerajaan Norwegia dan Republik Islandia untuk periode 2005-2008.  Pada masa penugasan itu, Dubes Retno mendapat penghargaan berupa Order of Merit dari Raja Norwegia pada Desember 2011, membuatnya sebagai orang Indonesia pertama yang menerima tanda jasa tersebut. Belum habis masa tugasnya di Oslo, ia diminta kembali ke Jakarta untuk mengisi posisi sebagai Direktur Jenderal Amerika dan Eropa dan menjadi perempuan pertama dalam sejarah Kemenlu yang menduduki jabatan tinggi tersebut. Sebagai Dirjen, Retno bertanggung jawab mengawasi hubungan dan kerja sama Indonesia dengan 82 negara di Amerika dan Eropa.  Retno juga telah memimpin berbagai putaran perundingan dan konsultasi bilateral antara Indonesia dan mitra-mitranya, termasuk Uni Eropa, serta dalam pertemuan antarkawasan seperti Asia-Europe Meeting (ASEM) dan Forum for East Asia-Latin America Cooperation (FEALAC).

Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Ia sudah malang melintang di jajaran pemerintahan, di daerah maupun di pusat selama lebih dari 30 tahun. Sempat menjabat Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Provinsi Lampung dan Kepala Biro Perencanaan Kementerian Dalam Negeri. Barulah di tahun 2013 ia memilih terjun ke dunia politik hingga terpilih sebagai Ketua DPP Partai Nasional Demokrat (NasDem) yang menangani bidang otonomi daerah. Selain itu, ia aktif sebagai dosen di IPB dan pembina lembaga swadaya masyarakat. Siti merupakan salah satu perempuan berprestasi ia pernah menjadi PNS teladan pada tahun 2004. Ia juga dinobatkan sebagai 99 perempuan paling berpengaruh di Indonesia versi majalah Globe Asia pada tahun 2007. Bintang Jasa Utama dari Presiden pada tahun 2011 serta Satya Lencana Karya Satya XXX tahun 2010 pun berhasil diperolehnya. Alumni dari Institut Pertanian Bogor ini pernah mengenyam studi di Belanda dengan mengambil konsentrasi International Institute for Aerospace Survey and Earth Sciences (ITC), Enschede, Belanda.

Susi Pudjiastuti - Menteri Kelautan dan Perikanan
Wanita kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965 memiliki komitmen kuat dalam pengembangan kelautan dan perikanan juga kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan hidup. Bahkan sejumlah pengamat politik menilai bahwa Susi dianggap sebagai sosok problem solver" di bidangnya sehingga memiliki kapasitas untuk menjadi motor penggali potensi kelautan dan perikanan Indonesia. Menurutnya, bekal pengalaman selama 33 tahun sebagai pelaku industri perikanan dan maskapai akan digunakan untuk mengembangkan perikanan dan kelautan di Indonesia. Sebelum menduduki kursi menteri, track record karier profesionalnya sangatlah baik. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT. ASI Pudjiastuti (Marine), Direktur Utama PT. ASI Pudjiastuti Flying School (Susi Flying School), Direktur Utama PT. ASI Geosurvey. Dewan Penasihat (HNSI, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia), Aktivis Independen Lingkungan, sampai menjadi Ketua Komisi Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah KADIN.

Yohana Susana Yembise - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Cenderawasih Jayapura, Papua ini adalah perempuan Papua pertama yang diberi gelar guru besar oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagai profesor doktor bidang silabus desain dan material development. Segudang pengalaman internasional dan keorganisasian pun telah ditorehkan, antara lain menjadi anggota Joint Selection Team (JST) Australian Development Scholarship beasiswa ADS/USAID tahun 2011, dan menjadi wakil ketua KNPI Kabupaten Paniai tahun 1984. Dengan prestasi yang telah dicapainya hingga kini ia mampu membuktikan ketangguhan dan daya juang perempuan Papua. Tahun 1985, wanita kelahiran Manokwari, Papua Barat, 1 Oktober 1958 ini melanjutkan pendidikan Sarjana Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Cenderawasih, menyelesaikan program gelar Master di Departemen Pendidikan Simon Fraser University di Kanada pada tahun 1994 dan memperoleh gelar Ph.D dari Universitas Newcastle pada tahun 2006.

Salam 3 Jari Jokowi Dapatkan 3 Rekor Muri dan Dunia

www.danahibah.web.idJavaMagazine (Jakarta) - Acara "Syukuran Rakyat Salam 3 Jari" dalam rangka pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih, Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi dan JK) akan mendapatkan pengakuan tiga rekor dari Museum Rekor Indonesia (Muri).

Hal tersebut diungkapkan Ketua MURI, Jaya Suprana saat jumpa pers syukuran di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (15/10).
"Acara pelantikan dan syukuran rakyat merupakan momen terakbar di Indonesia. Acara syukuran tersebut merupakan acara syukuran terakbar bagi seorang presiden di manapun. Dan setahu saya Presiden Obama pun tidak ada acara seperti ini saat pelantikannya," ungkap Jaya.

Oleh karena itu, lanjut Jaya, dirinya akan memberikan tiga rekor MURI dan Dunia.
Rekor pertama, karena dalam syukuran tidak hanya diisi konser rakyat. Melainkan ada pelepasan lampion sebanyak jumlah pulau di Indonesia, pemotongan tumpeng, dan festival budaya.
"Ini menjadi lembaran baru buat sejarah Indonesia, itu rekor pertama," lanjutnya.

Untuk rekor kedua, syukuran bukan diselenggarakan di Jakarta saja. Namun, juga digelar di 31 kota.
Sedangkan rekor ketiga adalah Jokowi merupakan presiden pertama dari tujuh presiden Indonesia yang dibuatkan syukuran oleh rakyatnya. "Rekor ini juga untuk mengingatkan Jokowi bahwa tanpa rakyat dirinya tidak mungkin jadi presiden," ujarnya.

Acara "Syukuran Rakyat Salam 3 Jari" akan diselenggarakan mulai 17 Oktober hingga 20 Oktober. Acara puncaknya akan dipusatkan di Jalan MH Thamrin sampai Istana Negara, pada 20 Oktober.

Keris Justru Dilupakan Karena Mistis & Mitos Keramat

Karena mistis & mitos keramat, keris jadi dilupakanJavaMagazine (Yogyakarta) - Benda pusaka semacam keris selalu dikait-kaitkan dengan mitos keramat dan juga hal-hal mistis. Meski hal tersebut tidak bisa diterima akal sehat, namun beberapa peristiwa menunjukkan bagaimana keramatnya sebuah keris, seperti keris terbang dan bisa berdiri yang kerap dipertontonkan lewat layar kaca.

Mitos tersebutlah yang dinilai oleh pegiat paguyuban Mertikarta (Pemerhati Tosan Aji Yogyakarta), Eko Supriyono sebagai penyebab keris tidak lagi dikenal oleh masyarakat sekarang.

"Soal isian keris atau keris jadi benda keramat, kita percaya itu ada. Tapi itulah menyebabkan orang jadi tidak kenal keris, punya keris lalu dikaitkan dengan mistis, orang jadi takut, padahal tidak semuanya begitu," kata Eko saat ditemui diacara Gelar Pusaka Warisan Dunia, di Pura Pakualaman, Rabu (24/09).

Karena faktor mistis yang melekat kuat, banyak orang yang tidak boleh memiliki atau bahkan melihatnya. Dia mencontohkan, ada banyak keris yang disimpan oleh Keraton, tapi tidak bisa dilihat oleh masyarakat.

"Sebagai benda pusaka, masyarakat tidak pernah lihat lalu bagaimana kita akan tahu, apa warisan kebudayaan kita, lalu bagaimana mewariskannya kepada generasi muda," ujarnya.

Eko menilai di era modern sekarang orang harus melihat keris sebagai karya seni estetika dan warisan kebudayaan. Karena itu jika sampai masyarakat tidak lagi mengenal keris, maka suatu saat keris akan dilupakan.

"Kita inilah yang merawat dan melestarikan kebudayaan kita, keris contohnya, semoga pameran ini bisa membuka pengetahuan dan minat masyarakat untuk mencintai warisan budayanya," pesannya.

Penemuan Koin Logam Era Sebelum Masehi

JavaMagazine (Cianjur) - Timnas Peneliti Gunung Padang, memperkirakan artefak berbentuk koin logam terbuat dari perunggu dengan diameter 1,7 sentimeter digunakan sebagai status sosial dan kepentingan ritual pada zaman sebelum masehi.

Wakil Ketua Timnas Peneliti Situs Megalit Gunung Padang, Ali Akbar, Selasa, mengatakan, beberapa artefak yang ditemukan sebelumnya, seperti mata tobak, trak logam, tongkat, gerabah, dan lainnya, rata-rata sudah ada sejak 5200 SM ditemukan pada kedalam 2-3 meter.

Artefak yang terakhir ditemukan Senin sore (15/9), ditemukan di kedalaman 11 meter saat proses pengeboran di teras 5. Pihaknya belum bisa memastikan usia koin logam tersebut. Namun artefak lainnya diperkirakan sudah ada sejak 5.200 SM di kedalaman 2-3 meter, sedangkan koin logam diperkirakan lebih tua.

"Kami menemukan koin logam itu, tengah malam saat proses pengeboran mencapai 11 meter. Koin terangkat melalui saluran pembuangan limbah, sehingga koin itu berbentuk utuh tidak rusak," katanya.

Pihaknya mengunakan mata bor kecil berdiameter 5 sentimeter, disamping sisi kiri dan kanan bor ada saluran air agar memudahkan pengeboran, lalu dikeluarkan melalui saluran sisi lainnya.

"Disaat saluran air itu berjalan, koin itu terangkat. Sehingga bentuk koin tersebut masih sangat utuh," katanya.

Warna koin logam itu, jelas Ali, berwarna hijau kecokelatan. Ukurannya sangat kecil berdiameter 1,7 sentimeter dan permukaanya datar. Pada koin itu terdapat lingkaran yang sangat banyak motif, seperti motif gawangan disamping lingkaran koin, lalu di dalamnya ada garis melingkar pada semua bagian koin.

"Uniknya garis melingkar itu ternyata berbentuk untaian lingkaran yang sangat kecil sekali, dan diameternya sekitar 0,3 milimeter dengan jumlah sebanyak 84 lubang. Lalu tebal koin ini hanya 1,5 milimeter," katanya.

Pihaknya memperkirakan, koin tersebut digunakan sebagai status sosial dan ritual upacara, bukan alat penukaran. Sebelumnya para peneliti, memperkirakan dikedalam 5 meter itu sudah tidak ada peradaban atau kehidupan, kalau konteksnya dilihat saat penemuan artefak beberapa waktu lalu.

"Kami memperkirakan usia termuda Situs Gunung Padang 500 SM dan tertua 5200 SM. Tapi ternyata, saat kami menemukan artefak koin di kedalaman 11 meter, berarti usia situs itu bisa lebih tua. Kemungkinan masih banyak banda-benda seperti itu, kami akan teliti dulu lebih lanjut dan dibawa ke laboraturium," katanya.

Menhan Ikuti Prosesi Jalan Salib

JavaMagazine (Yogyakarta) - Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro mengikuti Prosesi Jalan Salib pada acara Peresmian Penataan Kawasan Sendangsono, Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo, Senin (16/06/2014), sekaligus menandatangani Prasasti, bersama dengan Gubernur DIY HB X dan Uskup Agung Semarang Mgr. J. Pujasumarta.

Acara peresmian Penataan Kawasan Sendangsono diawali dengan peresmian oleh Gubernur DIY HB X. Sultan mengungkapkan, dengan Penataan Kawasan Sendangsono ini akan menambah destinasi wisata religi.Ia juga menyatakan, jika warga bisa hidup bersama dan dalam penghormatan terhadap agama lain yang terlihat di Sendangsono. "Hal ini terbukti adanya simbol-simbol kerukunan umat beragama", tegas Sultan.

Setelah melakukan prosesi jalan salib, Menhan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan harapan kedepan dengan penataan kawasan sendangsono, "Penataan Sendangsono ini diharapkan menjadi Lurdesnya Indonesia. Kedepan akan banyak wisatawan yang datang ke Sendangsono baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sehingga memberi dampak ke Sendangsono dan masyarakat sekitarnya", katanya.


Penataan kawasan yang akan dilakukan meliputi empat sasaran. Diawali dari renovasi atap Gereja Promasan yang kayu-kayunya telah rapuh, kemudian penataan jalan salib sepanjang 1 km dari gereja ke Sendang Sono. Selanjutnya pembangunan Sangkristi atau Pastoran, serta pembangunan kolam padusan di Sendang Sono.

Dalam kesempatan itu juga ditandatangani nota kesepahaman (MoU) Situs Wisata Rohani Sendangsono Yogyakarta oleh Institut Komunitas Universal sebagai Yayasan Pemrakarsa Penataan dan Revitalisasi Kawasan Situs Wisata Sendangsono, Tidar Heritage Foundation sebagai Yayasan yang bermaksud mengembangkan wilayah tTidar dan sekitarnya di bidang kerukunan spiritual maupun kemakmuran masyarakatnya, serta Keuskupan Agung Semarang.

Ketiga pihak bersepakat bekerjasama mengembangkan dan mempromosikan sendangsono sebagai daerah wisata spiritual yang diakui dunia sebagai waisan budaya dunia. (L30)

Letusan Kelud Penanda Datangnya Pemimpin Nusantara

Hyam Wuruk dan Soekarno adalah pemimpin nusantara yang ketika lahir bersamaan dengan meletusnya gunung Kelud. Akankah letusan kali ini melahirkan pemimpin baru yang dapat memperkuat kemegahan nusantara?



Hayam Wuruk dan Soekarno adalah pemimpin nusantara yang ketika lahir bersamaan dengan meletusnya gunung Kelud. Akankah letusan kali ini melahirkan pemimpin baru yang dapat memperkuat kemegahan nusantara.


JavaMagazine (Jakarta) - Letusan Gunung Kelud masa lalu telah menjadi penanda lahirnya dua tokoh yang menjadi cikal bakal pemimpin besar di nusantara ini, yakni, Hayam Wuruk, Raja ke-4 Majapahit dan Ir Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia.
Apakah letusan Gunung Kelud  yang terjadi pada Kamis (13/2) malam ini juga akan menjadi penanda lahirnya tokoh pemimpin Nusantara yang dapat membuat negara ini betul-betul berdaulat di segala bidang, atau (mungkin) seperti yang disebut-sebut banyak sebagai "Satrio Piningit." Entahlah. Kita mesti berdoa agar dibalik kekalutan masyarakat akan ada hikmah yang besar bagi kemakmusan Indonesia.  

Kembali ke sejarahnya, gunung teraktif di Inonesia  (selain gunung Merapi) ini, pada abad ke-20 telah beberapa kali mengalami erupsi, yakni 1901, 1919, 1951, 1966, dan 1990, kemudian abad ke-21, terjadi pada 2007, 2010 dan 2014.

Kelahiran Hayamwuruk
Buku "Sejarah Raja-Raja Jawa dari Mataram Kuno hingga Mataram Islam" karya Krisna Bayu Adji dan Sri Wintala Achmad, menyebutkan Hayam Wuruk lahir dari pasangan Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan Kertawardhana Bhre Tumapel (Cakradara) pada 1334.

Kelahiran Hayam Wuruk yang bermakna "ayam terpelajar" itu, versi Pararaton atau Wu-lao-po-wi (versi kronik Jawa) merupakan cucu dari Dyah Wijaya dan Gayatri dari pihak ibu, atau cucu dari Kebo Anabrang dari pihak ayah.

Dalam buku itu juga menyebutkan kelahiran Hayam Wuruk tersebut bersamaan dengan meletusnya Gunung Kelud dan gempa bumi di Panbanyu, serta ditandai dengan pengikraran "Sumpah Palapa" dari Patih Amangkubhumi Gajah Mada.

Hingga saat dirinya berusia 17 tahun, dinobatkan menjadi Raja Mahapahit ke-4 menggantikan Tribhuwana Wijaya Tunggadewi.

Semasa pemerintahannya itu, Majapahit berhasil mengembangkan wilayah kekuasannya sampai ke seluruh nusantara.

Dari Wikipedia menyebutkan Kitab Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII dan XIV, berikut adalah daerah-daerah yang diakui sebagai taklukan atau bawahan Majapahit (disebut sebagai macanagara). Negara-negara taklukan di Jawa tidak disebut karena masih dianggap sebagai bagian dari "mandala" kerajaan.

Sumatra disebut di Negarakretagama sebagai "Melayu" meliputi Jambi, Palembang, Keritang, sekarang kecamatan Keritang, Indragiri Hilir Teba (Muaro Tebo, Jambi), Darmasraya (Kerajaan Malayu Dharmasraya), Kandis, Kahwas, Minangkabau (masyarakat periode pra-Pagaruyung), Siak, masyarakat pra-Kesultanan Siak, Rokan (Rokan Hilir-Rokan Hulu) Kampar, Pane (Panai), Kampe (Pulau Kampai, pulau di Kabupaten Langkat sekarang), Haru (atau Aru, berpusat di Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang sekarang), Mandailing, Tamihang (Aceh Tamiang), Perlak (Peureulak), Padang Lawas, Samudra, Lamuri (pusatnya sekarang berupa desa di Kabupaten Aceh Besar), Bantan (Pulau Bintan)Lampung dan Barus (atau Pancur, kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah sekarang) Kalimantan disebut sebagai "Nusa Tanjungnegara" dan/atau "Pulau Tanjungpura", meliputi, Kapuas-Katingan (sekarang Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Katingan di Kalteng), Sampit (sekarang ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur), Kuta Lingga (artinya kota lingga, situs Candi Laras/Kerajaan Negara Dipa), Kuta Waringin (artinya kota beringin, masyarakat pra-Kerajaan Kotawaringin, sekarang Kabupaten Kotawaringin Barat) dan Sambas (Kerajaan Sambas kuno, sekarang Kabupaten Sambas).

Lawai (sungai Kapuas di Kalbar), Kadandangan (sekarang kecamatan Kendawangan, Ketapang), Landa (Kerajaan Landak, sekarang Kabupaten Landak), Samadang (Semandang, wilayah Kerajaan Tanjungpura), Tirem (Tirun/Kerajaan Tidung, sekarang kota Tarakan), Sedu (di Serawak), Barune (sekarang negara Brunei), Kalka (sungai Kaluka atau Krian di selatan Sarawak), Saludung (Kingdom of Maynila), sekarang Kota Manila, Filipina), Solot (kerajaan masyarakat suku Buranun, penduduk asli yang mendiami pegunungan di Kepulauan Sulu cikal bakal suku Suluk/Kesultanan Sulu), Pasir (masyarakat pra-Kesultanan Pasir, sekarang Kabupaten Paser), Barito (sekarang Kabupaten Barito Utara).

Sawaku (atau Sawakung di Berau atau kecamatan Pulau Sebuku, Kotabaru), Tabalung (sekarang Kabupaten Tabalong dengan kotanya Tanjungpuri di tepi sungai Tabalong, ibukota pertama kesultanan Banjar pada era Hindu), Tanjung Kutei (Kesultanan Kutai Kartanegara yang beribukota di Kutai Lama) dan Malano ("di Nusa Tanjungpura", masyarakat suku Melanau di Serawak dan Kalimantan Barat).

Malaysia Barat yang disebut sebagai "Hujung Medini", Pahang, negara bagian Pahang, Malaysia, Langkasuka, Saimwang, Kelantan, Terengganu, Johor, Paka, sekarang cuma merupakan desa nelayan, Muar, sekarang distrik di Johor, Dungun, sekarang adalah desa nelayan di Terengganu, Tumasik, sekarang menjadi negara Singapura, Kelang, (Selangor), Kedah, Jerai dan Kanjapiniran.

Termasuk juga wilayah Indonesia bagian timur, atau Timur Jawa, yakni, Bali (yang disebut adalah Badahulu dan Lo Gajah), Gurun, Sukun, Taliwang (di Pulau Sumbawa) Pulau Sapi, Dompo (Dompu), Sang Hyang Api (Pulau Sangeang), Bima Seram, Hutan Kendali (Pulau Buru), Pulau Gurun atau Lombok Merah, Sasak (dikatakan "diperintah seluruhnya"), dan Bantayan (Bantaeng) Luwuk (Kesultanan Luwu), Udamakatraya dan pulau lain-lainnya, "Pulau" Makasar, Pulau Buton (Kesultanan Buton), Pulau Banggawi (Kepulauan Banggai), Kunir, Galian, Salayar (Pulau Selayar), Sumba, Solot (Pulau Solor), Muar, Wanda(n) (Kepulauan Banda), Ambon atau pulau Maluku, Wanin (Semenanjung Onin, di Kabupaten Fakfak). Seran (Pulau Seram) dan Timor.

Siam, Ayodyapura, Darmanagari Marutma, Rajapura, Singanagari Campa, Kamboja, dan Yawana disebut bukan sebagai bawahan tetapi sebagai negara sahabat (mitreka satata).

Kelahiran Soekarno
Demikian pula, ikhwal Presiden Soekarno yang dilahirkan dua pekan setelah Gunung Kelud meletus pada 22-23 Mei 1901 pukul 06.00 WIB dari pasangan suami istri, Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai pada 6 Juni 1901.

Sebelumnya Soekarno bernama Koesno Soesrodihardjo namun karena sering sakit-sakitan hingga namanya diganti menjadi Soekarno.

Ibundanya berkata, "Kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar menyingsing." "Kita orang Jawa mempunyai kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dahulu. Jangan lupakan itu! Jangan sekali-kali kau lupakan Nak, bahwa engkau ini putra sang fajar".

Perkataan itu terbukti Presiden Soekarno yang dikenal dengan Bung Karno itu menjadi Presiden RI pertama dan namanya harum di seluruh dunia dengan nasionalismenya yang tinggi hingga dapat mempersatukan seluruh wilayah di nusantara, dan dia pun sangat anti kolonialisme dan imperialisme.

Sedekah Gunung Desa Sengi Dukun

JavaMagazine (Magelang) – Diawali dengan Doa bersama antara seniman, tokoh masyarakat dan budayawan di Candi Tengah, Sengi, Dukun, Senin, awal Pebruari 2013 dimulailah Kirab Prosesi Sedekah Gunung yang merupakan ajang Introspeksi Diri.

Gelar prosesi yang dimulai dari sudut Desa menuju Candi Asu dan berakhir di Candi Lumbung, diwarnai dengan tabur wewangian di sepanjang jalur kirab dengan disertai pembacaan mantera sebagai ujub permohonan kepada Tuhan YME. Para peserta nampak  larut dalam acara tersebut dalan suasana yang sakral dan menyatu dengan alam yang menyambut dengan cerah.

Menurut Ismanto, seorang budayawan yang memimpin acara tersebut menjelaskan, “Dengan Prosesi Sedekah Gunung kali ini, diharapkan masyarakat kembali menemukan jati diri, semakin akrab satu sama lain sebagai ciri khas bangsa yang berbudaya.”

Prosesi diakhiri di Candi Lumbung, dengan menggelar berbagai acara teatrikal, baca puisi dan berbagai upacara ritual dengan pendekatan kultur masyarakat Jawa.

“Kita mempunyai ujub, supaya manusia lebih menghormati alam dengan selalu menjaga dan merawat, Dengan menghormati alam, berarti kita menghormati Allah Yang Maha Kuasa, “ jelas Ismanto seusai kirab.

Setelah acara kirab prosesi, dilanjutkan dengan sarasehan dan dialog budaya di Desa Sumber, Dukun, Magelang.

Dalam acara tersebut  dihadiri beberapa elemen masyarakat,  para seniman, budayawan termasuk tokoh-tokoh agama.  (L30).

Penemuan Fosil Kerbau Purba di Situs Grogolan Wetan Sragen

JavaMagazine (Solo)Peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional menemukan fosil kepala Bubalus Paleokarabau(kerbau purba) di situs Grogolan Wetan, Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh. Fosil tersebut dinilai sebagaimasterpiece karena ditemukan dalam kondisi utuh. Rencananya fosil tersebut akan dipindahkan sebagai upaya konservasi.

Fosil kerbau purbaLokasi penemuan fosil tersebut dilereng bukit dengan kemiringan 40 derajat, di dekat lokasi tersebut pada 2011 pernah dilakukan penggalian dengan penemuan beberapa artefak. Sementara pada 2013, tim yang diketuai Prof. Truman Simanjuntak ini, kembali melakukan penggalian.  Ternyata dua meter dari lokasi kotak gali  tersebut ditemukan fosil kepala kerbau.
Koordinator lapangan ekavasi situs Grogolan Wetan, Ruly Fauzi, di lokasi penggalian, Selasa (3/9/2013), mengatakan temuan fosil kepala ini merupakan masterpiece karena keutuhan bentuknya. Dia mengungkapkan sejak ditemukan, Sabtu (31/8), empat hari tim melakukan pembersihan material tanah pada fosil tersebut.
“Kami akan melakukan pembersihan kemudian akan memberikan zat untuk memperkuat fosil yang rapuh ini, selanjutnya akan kami tuangkan silikon atau fiber untuk membuat cetakan. Fosil ini akan kami angkat, tetapi dilokasi ini akan dibuat display,” ujar pria yang pernah menempuh pendidikan di Italia ini.
Pada awalnya, benda purbakala ini ditemukan oleh pengawas tim ekavasi, Jatmiko, yang melihat sebentuk batu di dinding tebing. Setelah dilakukan pembongkaran, ternyata  ditemukan fosil kepala dengan rentang tanduk 1,20 meter. Diduga kepala kerbau ini sudah berumur 700.000-800.000  tahun karena ditemukan pada lapisan tanah kabuh.
“Penemuan masterpiece ini menjadi penemuan yang murni dari proses penggalian secara sistematis. Kebanyakan fosil di museum merupakan penyerahan dari masyarakat. Untuk itu dalam proses ini kami lakukan pencatatan secara detail baik tulisan dan gambar sebagai bahan penelitian,” terang dia.
Sementara itu, Arkeozolog, Mirza Ansyori, mengatakan jenis kerbau purba ini merupakan hewan migrasi dari daratan Asia Tengah. Pada zaman  early pleistosen laut diantara daratan Asia Tengah dengan daratan Jawa (sundaland) seringkali mengalami surut. Pada kondisi tersebut beberapa hewan melakukan migrasi, namun pada saat air pasang hewan-hewan tersebut akhirnya terjebak.
Bubalus Paleokarabau ini merupakan hewan purba yang  bermigrasi pada satu gelombang awal migrasi Early pleistosen, bersamaan dengan Stegodon (gajah purba) dan Servus (rusa),” ujar dia.

Air Terjun Dan Pantai Yang Unik Dan Menawan di Yogyakarta

Posisi dari atas jalan setapak menuju Air terjun JoganJavaMagazine (Yogyakarta) Gunungkidul di Yogyakarta tak cuma punya deretan pantai yang cantik. Tapi juga objek wisata unik yaitu Air terjun Pantai Jogan. Di sini Anda tak hanya bisa bermain di pantai, tapi juga di air terjun. Asyik!
Siapa yang sudah tahu dengan eksotisme Air terjun Pantai Jogan di Gunungkidul, Yogyakarta? Mungkin ada beberapa yang tahu, tapi saya yakin untuk saat ini sebagian besar tidak mengetahui mengenai Jogan.
Karena letaknya jauh, dan agak terpencil, dan papan petunjuknya pun kecil. Kalau Anda tidak jeli, tidak akan terlihat loh. Ya, air terjun sekaligus Pantai Jogan terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
Pesona air terjunnya yang mengarah ke laut bisa membuat Anda berdecak kagum akan keajaiban Sang Pencipta. Di atas Air terjun Jogan, diapit oleh deretan pohon palma. Keindahan pantai ini juga dilengkapi dengan bebatuan yang eksotis.
Disamping itu, gua-gua kecil di Jogan pun menjadi ciri khas pantai ini. Untuk ke lokasi Air terjun Jogan, Anda harus berhati-hati. Karena jalan setapaknya masih dari tanah serta bebatuan dan sangat sempit. Anda harus berpegangan jika tidak ingin terjatuh. Saya saja hampir terpeleset..
Saya ke Pantai Jogan pada hari Minggu, bulan Maret 2013. Waktu tempuh perjalanan ke Jogan ini sekitar 2 jam dari pusat Kota Yogya (sekitar 70 km dari Kota Yogua). Saya dan teman berangkat pukul 08.00 sampai jam 10.00. Patokannya arah Pantai Siung (200 m dari barat Pantai Siung).
Untuk tiket masuknya satu orang Rp 3.000 sudah termasuk tiket masuk jika Anda masuk ke Pantai Siung, tinggal parkirnya bayar Rp 2.000. Waktu saya ke sana, hanya ada tukang parkir dan penjaga warung. Tidak terlihat wisatawan di sini.
Saya langsung berpikir, betul tidak ya ini tempat wisata? Kok sepi begini? Tapi saya penasaran, saya tanya tukang parkirnya.
"Maaf Pak, pantainya sebelah mana ya? Kok sepi ya?"
Bapaknya pun menjawab, "Oh iya memang di sini sepi mbak. Pantainya arah ke bawah lewat jalan setapak itu," katanya sambil mengarah ke bawah.
Saya sempat bertanya, apakah arahannya salah. Tapi ya sudahlah, saya coba jalan ke bawah dengan sangat hati-hati. Kira-kira berjalan kecil sejauh 10 meter, saya menemukan air terjun. Yippie! Kami langsung ganti baju dan bermain di sana. Bebas, seperti punya sendiri.
Sejenak saya merasa hening, hanya deburan ombak dan gemericik air terjun di sini. Rasanya tenang sekali. Air terjun Jogan tepat berhadapan dengan pantainya. Rasa air terjunnya tawar, tapi air lautnya asin. Di pantai ini kawan-kawan tidak dapat berenang, karena banyak bebatuan karang.
Berada di belakang air terjun dan di depan pantai, itulah posisi saya saat itu. Dari belakang terdengar suara air gemericik air terjun dan di depan terdengar suara deburan ombak Pantai Selatan. Saya tak habis mengucap syukur akan keindahan alam Sang Pencipta. Keren!

Pilih Permata Yang Anda Sukai !

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 

Powered by Java Magazine