Karya Maestro Affandi Dipalsukan

JavaMagazine (Yogyakarta) - Beredarnya isu pemalsuan lukisan karya maestro Affandi di kalangan kolektor          

dan pecinta lukisan ternyata terbukti. Pemalsuan lukisan-lukisan karya maestro besar seperti Affandi jelas-jelas bermotif mencari keuntungan secara financial. 

Putri pelukis Affandi, Kartika Affandi pernah didatangi pemilik lukisan Affandi palsu. Pemilik lukisan itu meminta sertifikat untuk membuktikan bahwa lukisan yang dimilikinya adalah lukisan asli. Bahkan pemilik lukisan tersebut bersedia membayar berapapun yang diminta Kartika.

Karena Kartika tahu betul bahwa lukisan tersebut bukan lukisan asli, ia menolak memberikan sertifikat. Kenyataan tersebut hendaknya dijadikan contoh, betapa banyak cara yang dilakukan orang untuk memburu sertifikat lukisan karya maestro yang dipalsukan.

Menurut Kartika, jika lukisan tersebut palsu mau diberi uang berapapun ia tidak akan bersedia memberikan sertifikat. "Palsu ya palsu, mau disogok berapapun, saya tetap akan menolaknya," tegasnya.

Affandi mempunyai museum dan yayasan yang tugasnya melindungi seluruh karya Affandi, termasuk adanya pemalsuan. Museum dan yayasan ini dikelola secara turun-temurun. Bila ada perkara yang membawa-bawa nama keluarga terkait karya sang maestro, pihak museum akan menempuh jalur hukum. Saat ini, karya Affandi yang disimpan di Museum tersebut ada 300 karya. Dengan masterpiece "Self Potrait" yang dibuat tahun 1974.

Peredaran lukisan-lukisan karya maestro lukisan di Indonesia banyak terjadi karena tidak ada hak paten lukisan. Hal ini terjadi karena seniman tidak ada dana cukup untuk mematenkan karya tersebut. Namun sangat disayangkan bila kelemahan tersebut dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memalsukan karya-karya lukisan orang lain.

Almarhum Affandi, seperti yang diungkap Kartika pernah menyatakan dikala masih hidup, seseorang bisa memalsu lukisan pastilah memiliki kemampuan cukup untuk melukis. Namun meski dipalsukan oleh seorang yang ahli sekalipun, lukisan tersebut tetap memiliki kelemahan, sehingga tetap ada celah yang membuktikan karya tersebut palsu. Sebagai contoh adalah lukisan tentara karya Affandi yang melukiskan sosok pejuang yang selalu menggunakan sandal, namun si pemalsu melukiskan sosok pejuang mengenakan sepatu. "Secara teknis, para pemalsu berkemampuan bagus, pandai. Namun secara komposisi, mereka tidak tahu, "terang Kartika.

Dr Oei Hong Djien, kolektor seni rupa asal Magelang mengungkapkan, untuk mengatakan sebuah lukisan otentik atau tidak harus benar-benar dipelajari dan itu tidak cukup satu atau dua hari saja. Sejak jaman dulu, di negara manapun, jika suatu lukisan itu laku, pasti akan muncul palsunya. Sementara dari sisi hukum, hal tersebut sangat sulit dibuktikan, sehingga tida ada penindakan.

Permasalahan lukisan palsu merupakan masalah yang rumit di Indonesia. Jika ada alat deteksi di luar negeri, itu hanya mempunyai kemampuan mengetahui usia lukisan. Hingga sekarang, belum ada alat atau orang yang bisa mendeteksi lukisan tersebut asli atau palsu. "Jadi untuk pembuktian bukan perkara yang mudah." kata OHD yang bertinggal di Jalan Diponegoro 74 Kota Magelang.

OHD sempat diterpa isu miring lukisan koleksinya. Diantara ribuan koleksi lukisannya, ada beberapa karya maestro lukisan yang diduga palsu, diantaranya karya Sudjojono, Hendra Gunawan dan Soedibio. Kritik pun bermunculan, termasuk dari Amir Sidharta, praktisi Balai Lelang sekaligus kurator Museum Pelita Harapan. (Ed).

0 komentar:

Posting Komentar

Pilih Permata Yang Anda Sukai !

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Java Magazine