Bahan Nilon Sudah 70 Tahun

JavaMagazine (AS) - Kalau Anda  masuk sebuah toko, lalu meminta sepasang kaus kaki polyhexamethyleneadimamides, pasti pramuniaganya akan menjawab, "Nggak ada!" Atau malah menganggap Anda sinting. Padahal yang Anda maksudkan itu cuma nilon, serat sintetik komersial yang pertama. Nilon mulai ada sudah 70 tahun yang lalu.

Tidak ada yang terkesan ketika tanggal 27 Oktober 1927 Du Pont Company di AS mengumumkan penemuan 'bahan sintetik' yang memiliki potensi penggunaan ratusan macam. Tidak banyak orang yang bisa membayangkan bahwa nilon kini dipakai untuk sikat gigi sampai pakaian tahan peluru, untuk pembuluh darah buatan sampai sendi panggul palsu, untuk filter sinar X sampai plasma darah

Dari Sikat Gigi Sampai Jantung Buatan

Sebelum nilon bisa muncul sebagai serat yang bisa digunakan sebagai peralatan hidup sehari-hari sebelas tahun kemudian, Du Pont perlu mengeluarkan uang 27 juta dollar untuk riset dan pengembangannya. Ilmuwan yang paling besar jasanya dalam pengembangan nilon adalah Dr Wallace Carrothers dari Havard. Ilmuwan pandai yang tidak bisa bergaul dengan orang itu menderita penyakit jiwa yang kadang-kadang kambuh. Kemudian pada tahun 1937, dua hari setelah ulang tahunnya yang ke-41, ia masuk ke sebuah hotel kecil di Philadelphia untuk minum racun sianida.
Ia tak sempat mendengar penemuannya diumumkan dengan nama "Rayon 66" enam belas bulan kemudian.

Nilon dibuat dari empat unsur: karbon, hidrogen, nitrogen dan oksigen. Du pont memutuskan untuk memberinya nama generik 'nylon'. Ia diiklankan sehalaman penuh di surat kabar tanggal 30 Oktober 1938.

Segera saja nilon diterima dimana-mana. Mula-mula nilon muncul dalam bentuk sikat gigi. Lima puluh tahun kemudian, hampir tidak ada industri yang tidak memakai nilon yang kuat dan ulet itu. Kini jantung buatanpun dibuat dari nilon, bukan sekedar katupnya. Neil Amstrong pun memakai pakaian nilon, ketika berjalan-jalan ke bulan. Di zaman Aids merajalela, jarum suntik sekali pakai sangat laris. Inipun dibuat dari nilon.

Kaus Kaki Jadi Ban Truk

Dulu wanita-wanita Eropa dan Amerika memakai kaus kaki sutera. Namun, ketika Jepang menduduki Cina, wanita-wanita Amerika ingin memboikot Jepang dengan cara berhenti memakai bahan-bahan sutera. Muncul kekosongan bahan untuk kaus kaki. Nilon tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Nilon muncul dalam bentuk kaus kaki panjang (stockings) dan benda dari bahan baru itu laku keras.

Namun, AS juga ikut PD II. Nilon dianggap bahan penting untuk perang. JAdi pembuatan kaus kaki nilon dihentikan. Bintang-bintang film zaman itu lantas mencari dana untuk perang dengan melelang kaus kaki mereka. Ribuan wanita AS menyumbangkan kaus kaki nilon mereka untuk dicairkan dan dijadikan peralatan perang, seperti parasut, ban truk, tenda, seragam tentara, dsb.

Namun, seminggu setelah perang selesai bulan Agustus 1945, Du Pont memproduksi lagi nilon untuk pakaian. Orang berebut membeli nilon sampai polisi repot menjaga toko-toko. Sampai dua tahun setelah perang selesai, kaum wanita AS masih harus antri untuk membeli kaus kaki nilon.

Setelah itu bukan cuma kaus kaki nilon yang bisa mereka beli dengan leluasa, tetapi juga pakaian dalam, jas hujan, karpet dan keperluan rumah tangga lain. Muncullah nama-nama seperti Dacron, Orlon, Lycera, Teflon. Yang terakhir ini dipakai untuk melapisi alat-alat masak seperti panci dan wajan, supaya bahan-bahan yang dimasak didalamnya tidak lengket. (Ed).

0 komentar:

Posting Komentar

Pilih Permata Yang Anda Sukai !

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Java Magazine