Antibiotik Dari Bawang Putih

JavaMagazine (Jakarta) - Bawang putih yang biasa kita kenal sebagai bumbu masak, ternyata sudah dimanfaatkan orang sejak zaman mesir kuno. Tiap pekerja Firaun yang dikerahkan dalam pembangunan Piramida Gizeh dibekali bawang putih, setiap hari. Bawang putih tersebut wajib mereka kunyah sebagai sarapan kedua. Maksudnya agar mereka selalu segar bugar, sehingga tidak sempat menggerutu. Tidak dijelaskan dalam sejarah, bagaimana duduk perkaranya sampai pengunyah bawang putih ini bisa menjadi bugar. Jadi fakta sejarah tersebut terpaksa dimasukkan dalam jajaran cerita aneh tapi nyata.

Dongeng Tambahan

Yang lebih tidak masuk akal lagi ialah kepercayaan orang Hongaria terhadap bawang putih. Supaya tidak terganggu vampir piaraan Vlad Dracul, yang dimitoskan sebagai Graaf Dracula dari Transsylvania (di Jantung Rumania sekarang), disarankan agar para warga yang menjadi langganan vampir memakai kalung penolak bala dari untaian bawang putih. Supaya senjata gaib ini tidak kentara, boleh juga digantungkan di balik pintu rumah. Jadi setiap vampir yang mau mengganggu biar kaget setengah hidup.

Dongeng tentang bawang putih seperti ini, dulu banyak beredar di berbagai negara. Dongeng modern juga lumayan banyak. Salah satu diantaranya mengandalkan hasil penemuan F.G. Piotrousky dari Fakultas Kedokteran Universitas Wina, Austria. Sejumlah pasien yang menderita tekanan darah tinggi diberi diit "miskin garam". Ternyata 40% dari pasien yang dijadikan kelinci percobaan itu betul-betul turun tekanan darahnya, dibandingkan dengan yang hanya diberi diit "miskin garam".

Piotrousky menjelaskan duduk perkaranya, bahwa zat yang terkandung dalam umbi bawang itu mampu menetralisir racun hasil pencernakan makanan yang salah dalam usus (yang menyebabkan tekanan darah tinggi itu). Akibat hilangnya pengaruh racun ini, pembuluh darah yang bertugas menyerap sari makanan dari usus tidak menyempit lagi. Boleh disimpulkan bahwa bawang putih bekerja sebagai vasolidator, pelebar pembuluh darah ini, tekanan yang semula tinggi bisa turun. Tentunya dengan pengertian bahwa pengaruh bawang putih hanya berlaku terhadap jenis tekanan darah tinggi seperti yang diamati Piotrousky itu saja. Jenis tekanan darah tinggi lain, oleh penyebab lain, tidak terpengaruh.

Walaupun begitu, kabar baik tentang bawang putih itu toh diteruskan sebagai "obat tekanan darah tinggi" akibat aterosklerosis pula. (Penyempitan pembuluh darah arteri karena timbunan lemak dan kolesterol pada dinding dalamnya). Bagaimana sampai aterosklerosis dibawa-bawa?
Ternyata, kabar baik itu diteruskan dengan tafsiran tambahan, bahwa umbi bawang itu juga efektif dalam membersihkan sisa kelebihan gula glukosa dalam darah. Tak kurang dari Earl Mindell dalam Vitamin Bible, Warners Books New York, ikut menyebarluaskan. Gula darah itu dipandang sejajar dengan kolesterol sebagai faktor penyebab aterosklerosis dan serangan jantung. Maksudnya sudah tentu aterosklerosis (penyempitan arteri karena endapan kolesterol) dan bukan aterosklerosis (pengerasan arteri karena pengapuran). "Fatwa" dalam Vitamin Bibble ini diteruskan sebagai dongeng moderen bahwa bawang putih juga mampu menurunkan kadar kolesterol.


Kandungan Bawang Putih

Mula-mua para ahli dietlah yang mencoba mengetahui, apa kandungan bawang putih itu, sebagai bahan makanan. Selain air, protein, lemak dan karbohidrat, yang kadarnya tidak begitu berarti, mineral yang penting dalam tiap 100 g bawang itu ialah kalium (346mg), fosfor (109mg) dan kalsium (26mg). Juga ada sedikit vitamin C (7mg).

Kalium yang lumayan banyak itulah yang membantu memperlancar penyingkiran zat beracun hasil metabolisme tubuh, lalu menurunkan tekanan darah tinggi. Kalium berasal dari buah-buahan dan sayuran memang sudah lama diketahui bersifat seperti itu.

Antibiotik

Cavalito dan Bailey, pada tahun 1944 menemukan ester thioprophen sulfinic acid allyl ester berbentuk minyak (yang demi kemudahan disebut allicin), dalam umbi bawang putih. Warnanya kuning dan baunya sedap, gara-gara belerang yang terkait dalam molekul ester yang mudah terbang itu. Ternyata zat ini mampu menumpas kuman, sampai kaum komunis memandang bawang putih sebagai "penisilin Rusia".

Sifat Antibiotik ini sebelumnya juga sudah lama kita amati di Indonesia, sampai nenek moyang kita dulu (sebelum kebanjiran antibiotika mahal dari macanegara), memakai tumbukan bawang putih sebagai obat luka. Disamping sebagai obat sakit tenggorokan, karena infeksi bakteri (bukan untuk sakit batuk). Dengan mengunyah bawang putih, gangguan infeksi itu bisa diperingan hingga sembuh. (Jm)

0 komentar:

Posting Komentar

Pilih Permata Yang Anda Sukai !

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Java Magazine